Thursday, May 21, 2026

Sehari di Belanda Mei 2026

#mamahgajahbercerita #tantanganmagata2026


Aku bangun pagi, seperti biasa, sebelum alarm berbunyi. Target bangun jam 7.30 karena sedang tidak shalat, tapi terbangun jam 6 karena sekarang sudah hampir musim panas. Subuh jam 4, maghrib jam 9.30 malam dan jam 6 pagi sudah terang benderang! 

Setelah mengecek jam berapa sekarang, yang berikutnya dicek adalah aplikasi kalender: apa saja jadwal hari ini? A ujian topografi negara-negara Eropa tengah. S ada kegiatan kunjungan sekolah ke kinderenboerderij (Peternakan hewan untuk edukasi anak-anak). 

Berikutnya yang dicek adalah aplikasi SocialSchool, aplikasi yang digunakan sekolah dasar disini untuk berkomunikasi dengan orang tua murid. Paling mengagetkan kalau pagi-pagi ternyata ada berita guru anak sakit, tidak ada guru pengganti, dan anak diliburkan. Awal pindah kesini dulu sampai terheran-heran, mana ada di Indonesia anak-anak libur karena tidak ada guru? Paling-paling jam kosong dan anak-anak bersenang-senang di kelas, ribut- ribut tanpa guru, hehe. Di Belanda isu kekurangan tenaga pengajar sudah sejak lama ada. Ketika ada guru yang sakit maka opsinya adalah kelas dipegang guru pengganti, -jika ada-, atau anak dibagi-bagi ke kelas lain (yang pembagiannya sudah direncanakan dari awal dan dipasang di papan kelas), atau opsi terakhir, anak diliburkan. 

Setelah yakin tidak ada pengumuman mendadak di SocialSchool, aku pun mencari info kegiatan S ke kinderenboerderij. Apa saja, ya, yang harus dibawa S nanti? Jam berapa harus berkumpul di sekolah? Kali ini aku tidak ikut menjadi hulpouder (orangtua yang membantu aktivitas ekstra sekolah seperti kunjungan ke kinderenboerderij ini). Tampaknya aktivitas ini sangat populer sehingga dalam beberapa menit sejak aktivitas ini diumumkan dulu, langsung ada 5 orangtua murid yang mendaftar. S cukup sedih aku tidak ikut berpartisipasi dalam aktivitas ini, tapi aku berjanji akan menjadi hulpouder nanti di aktivitas yang lain. Sebelumnya aku juga sudah beberapa kali ikut membantu. Salah satunya ketika ada pelajaran bersepeda, dimana anak-anak praktek bersepeda dasar : bersepeda lurus ke depan, bersepeda dengan rute memutar, dan bersepeda dengan rute berbelok - belok. Aku juga membantu membacakan buku di depan kelas ketika ada acara makan pagi bersama di musim semi. S senang sekali setiap aku menjadi hulpouder. A juga, tapi kini tidak lagi, karena ia sudah beranjak besar. Kalau dulu ia seperti S yang menunggu - nunggu kapan aku akan menjadi hulpouder, sekarang ia menolak tiap kutawarkan. Karena itu aku berjanji akan sebanyak-banyaknya menjadi hulpouder untuk S mumpung ia belum malu ada orangtuanya di sekolah, hehe.

Berikutnya yang harus dilakukan adalah menyiapkan sarapan. Biasanya berupa pastry yang dibeli di supermarket sehari sebelumnya. Menu kesukaan A adalah frikandel broodje halal (pastry isi sosis), atau kaastengel jalapeno (pastry keju dengan jalapeno). Pilihan S adalah borek feta spinaci ( semacam lumpia isi bayam dan keju feta) dari supermarket Dirk atau kaastengel (pastry keju) dari supermarket AH. Ayahnya suka pastel di nata (pie dengan isi vla susu). Semuanya kupanaskan di airfryer. Kadang-kadang A membantu, ia sudah mahir menggunakan airfryer sekarang. 

Kemudian aku bergerak menyiapkan bekal anak- anak berupa buah dan makan siang. Hari ini ada semangka yang kubeli di pasar Selasa. Karena sekarang sudah musim, jadi semangka sudah bisa didapatkan di pasar dengan harga murah. Kalau tidak ada, biasanya A suka apel atau pear. S suka pear, dan sekarang mulai mau makan jeruk juga, tapi harus dikupas semua sehingga tinggal ia makan bulir-bulir jeruknya tanpa kulit sama sekali! 

Makan siang A dan S akhir-akhir ini berupa wrap, berganti trend dari yg sebelumnya roti bun isi. Untuk A isinya adalah daging-dagingan, kali ini bola-bola daging vegan Ikea. Untuk S isinya harus ada kejunya dan saus, kali ini isiannya schnitzel keju gouda. Saus kesukaan S harus kustok sendiri, campuran dari mayonnaise, saus tomat, gula, rempah dill kering, bawang putih bubuk, dan lemon.

Pas sekali ketika semua siap A dan S sudah bangun. S sangat tak sabar ingin pergi ke peternakan jadi sejak malam ia sudah bangun dan mengenakan baju pilihannya! Karena mungkin bertemu kelinci, hari ini dia memilih baju yang putih semua dengan bando kuping kelinci yang bisa bergerak-gerak. S memang selalu memilih dengan cermat baju dan asesoris yang dipakainya tiap hari. Berkebalikan dengan A yang lebih praktis, apa saja celana dan kaos yang ada akan dipakainya. 

A dan S sekarang sudah tanpa perlu diingatkan akan langsung melakukan rutinitas paginya, ke toilet, wudhu, shalat Subuh, sarapan, lalu bersiap-siap sekolah. Yang masih perlu kuingatkan hanyalah menyikat gigi sebelum pergi, memakai sunblock dan menyisir rambut. A kadang menyisir sekenanya saja sehingga harus kusisir ulang dengan tambahan gel rambut supaya rapi. S kadang membutuhkan bantuan untuk rambut belakangnya yang kusut, sehingga aku atau ayahnya kadang turun tangan dengan bantuan spray rambut anti kusut. Untuk hari ketika ada ujian, PR, atau olahraga di sekolah aku harus mengingatkan juga untuk belajar ekstra sebelum berangkat, membawa PR atau sepatu dan baju olahraga.

Hari ini suamiku, T, bekerja dari kantor, sehingga A dan S berangkat bersama ayahnya. Aku pun mulai jam 9 pagi menikmati rumah menjadi milikku sendiri begitu mereka pergi: me time! Karena T di hari lain selalu bekerja dari rumah, me time ini barang langka! Kadang kupakai untuk membuat gorengan kesukaanku. T tidak suka rumah bau minyak gorengan, walaupun dia nantinya ikut menikmati dengan semangat juga gorengan hasilnya. Kadang kupakai olahraga dengan bermain Just Dance di Switch tanpa harus bergantian memilih lagu dengan anak-anak. Kali ini kugunakan untuk menulis. 

Setelah itu waktunya memasak untuk makan malam dan siang besok. Aku sedang tidak ada stok daging di freezer karena hari Ahad kemarin tidak sempat berbelanja ke toko Turki yang menjual daging halal. Daging halal bisa juga disini didapatkan di supermarket umum, tapi bentuknya kemasan dan relatif lebih mahal. Supermarket Turki/Maroko yang menjual daging, Alhamdulillah, ada banyak di kota ini. Tempatnya di daerah selatan kota yang banyak penduduk muslimnya atau di pertengahan kota yang pusat berbagai kultur. Sayangnya rumahku tidak terlalu dekat, jadi belanja daging biasanya kulakukan di hari Ahad ketika mengantar anak-anak ke TPA di masjid Maroko yang berada di selatan kota. 

Karena tidak ada daging kuputuskan membuat pizza hari ini. Kebetulan mozzarella sedang sale beberapa hari yang lalu dan sudah kustok di rumah. Tinggal menyiapkan adonan sekarang, nanti digiling dan dibentuk menjelang anak- anak sudah pulang sekolah ketika adonannya sudah mengembang. 

Setelah menyiapkan menu, kegiatan-kegiatan rumah lain menanti: mengosongkan dan mengisi dishwasher, melipat baju-baju kering yang menumpuk karena T mengerjakan cucian borongan sekaligus ketika keranjang baju kotor telah melimpah-limpah keluar saking penuhnya. Untunglah aku bisa melakukan hal-hal ini sambil menonton seri TV yang kuikuti supaya tidak bosan. Kalau sedang insyaf, kulakukan sambil mendengarkan ceramah, atau murojaah hafalan. 

Jam 2. 45 siang waktu anak-anak pulang sekolah. Setelah kujemput biasanya mereka akan mandi dulu sebelum beraktivitas di rumah. Akan tetapi hari ini ada karate, jadi nanti mereka baru akan mandi setelah pulang karate. Mereka biasanya pulang dalam keadaan lapar, jadi pizza hari ini bisa menjadi senjata ampuh menenangkan mereka. Di hari yang anak-anak tidak ada aktivitas karate, musik atau berenang, mereka punya tugas mengaji, menambah hafalan surat, dan berlatih musik. Sayang sekali tugasku mengingatkan dan mengejar-ngejar mereka melakukan tugas-tugas ini belum selesai. Alhamdulillah, walaupun belum dilakukan dengan kesadaran sendiri, akhir-akhir ini frekuensi tangisan dan tantrum penolakan mereka untuk melakukannya sudah semakin minimal. Akupun jadi lebih tenang rasanya, tidak ikut menangis juga, hahaha.

Jam 4.30 kami sudah harus berangkat karate menggunakan metro/kereta bawah tanah. Awas, anak-anak harus diingatkan: apakah mereka sudah membawa semua kostum karatenya, perlengkapan karatenya, minum, snack, dan tiket transportasi umum? Mereka sudah bisa menyiapkan sendiri tapi kadang ada saja yang terlupa jadi aku selalu turun tangan mengecek sebelum berangkat.

Jam 5 S karate selama 45 menit, lalu giliran A karate, karena mereka di kelas umur yang berbeda. Waktu menunggu mereka les kugunakan untuk berbelanja. Kebetulan tempat karate mereka di dekat pertokoan dengan 2 supermarket dan berbagai toko kebutuhan sehari-hari lainnya. Sebelumnya biasanya aku sudah mendaftar barang apa yang sale di toko apa. Sehingga waktu menunggu ini kugunakan dengan maksimal berpindah dari satu toko ke toko yang lain membeli kebutuhan rumah tangga yang sedang diskon. Sejak perang Ukraina pecah harga-harga disini semakin meninggi dan tidak pernah turun, jadi strategi mencari harga termurah ini cukup berpengaruh untuk memaksimalkan daya beli. 

Beruntung aku kenal dengan beberapa orangtua teman karate A dan S. Waktu menunggu sambil berbelanja bersama ini juga kugunakan untuk bersosialisasi. Akhirnya bisa bercakap-cakap dengan orang dewasa lain selain keluarga! Kadang kami bertukar resep, bertukar info barang diskon, atau sekadar ngobrol-ngobrol keluh kesah ibu-ibu dengan anak kecil pada umumnya. 

Jam 7 malam biasanya akhirnya kami sudah kembali ke rumah dan T sudah pulang juga dari kantor. Anak-anak lalu segera mandi sementara aku memanaskan makan malam. Kami makan bersama sebelum kemudian shalat berjamaah ashar. Karena sekarang waktu maghrib melewati jam tidur anak-anak, kebijakan kami adalah anak-anak diminta shalat maghrib dan isya sebelum tidur saja, mengingat mereka belum wajib shalat. T dan aku pun juga mengambil rukhsakh menjama' maghrib dan isya ketika waktu maghrib sesuai fatwa imam dari Jerman. 

Anak-anak lalu ke toilet dan kusikat gigi mereka sebelum tidur. Disini orangtua diminta oleh dokter gigi untuk tetap menyikat gigi anak-anak sampai mereka berumur 12 tahun. Kadang-kadang mereka memilih menyikat gigi sendiri, dan kadang aku pun kecapaian sehingga ada malam-malam yang aku skip. Tapi tidak boleh terlalu banyak karena nanti aku yang dimarahi dokter gigi mereka ketika cek 3 atau 6 bulan sekali gigi mereka.

Lalu sampailah di waktu kesukaanku di akhir hari, berpelukan di kamar mereka sambil membacakan buku sebelum tidur. Aku suka sekali membaca dan Alhamdulillah anak-anak juga berhasil kutularkan kesukaanku ini. Kami selalu meminjam sejumlah maksimal peminjaman buku dari perpustakaan (10 untuk masing-masing anak) dan kami suka sekali menghabiskan waktu di perpustakaan ketika sedang tidak ada kegiatan. Dengan kebiasaan ini maka waktu membaca buku sebelum tidur juga fun untukku karena buku yang kubacakan belum pernah kubaca juga sebelumnya. Selalu ada kejutan menarik di buku-buku anak sekarang! Aku suka!

A sekarang sudah lebih suka membaca sendiri buku pilihannya. Tapi sesekali ia suka ikut mendengarkan dan nimbrung juga membahas buku yang kubacakan untuk A. Kadang juga ia membacakan sepotong penggalan cerita dari bukunya yang ia rasa lucu dan perlu dibagikan untuk kami. Setelah itu lampu dimatikan dan waktunya anak-anak tidur. Di malam ketika T pergi olahraga ping-pong kadang aku ikut tertidur di kamar mereka. Sejujurnya tidur yang paling menyenangkan memang bersama mereka. Alhamdulillah, senang sekali Allah menganugerahiku anak-anak yang menyenangkan dan nyaman bersamaku, semoga kami selalu bersama-sama di dunia akhirat dan mencapai surga firdaus, insya Allah. 

Di lain waktu aku hanya menemani sebentar sampai mereka tertidur untuk kemudian menunggu waktu shalat maghrib bersama T. Shalat maghrib jama' shalat isya berjamaah, lalu kadang-kadang kami menonton seri / film baru yang tidak bisa ditonton bersama anak-anak. Sering aku dan atau T sudah terkantuk-kantuk dan tertidur di tengah-tengah film, sehingga biasanya satu film kami selesaikan setelah beberapa hari. Alhamdulillah sehari selesai, waktunya beristirahat, dan esok beraktivitas lagi, insya Allah!

Tuesday, March 31, 2026

Martabak!

While my european friends wouldn't believe my age, here I am eating a humble pie martabak as the Indonesian person at martabakhouse immediately greeted me with "Halo, Tante!" 😆 

I can attest that this martabak is yummy, warm, crunchy and bringing my feeling right back to Indonesia where I'm rightfully a tante-tante! 😆

Monday, April 08, 2024

Tunjangan Hari Raya

Masya Allah, fakta bahwa Indonesia adalah negara dengan pluralitas agama jelas sekali terlihat dalam peraturan mengenai Tunjangan Hari Raya (THR). Baru saya ketahui sekarang THR adalah bonus sebulan gaji (atau proporsional sesuai masa kerja seseorang bila bekerja kurang dari setahun) yang harus diberikan paling tidak seminggu sebelum hari raya agama yang bersangkutan. Untuk yang beragama Islam berarti seminggu sebelum Idul Fitri, yang beragama Kristen seminggu sebelum Natal, yang beragama Hindu sebelum Nyepi, dan yang beragama Buddha sebelum Waisak.

Alhamdulillah betapa negara kita menghargai semua agama. Konsep THR ini ada pula di Italia dengan konsep gaji ketiga belas (tredicesima). Hukumnya sama-sama wajib dengan THR dan jumlahnya sama, sebulan gaji. Peruntukannya juga kira-kira sama, untuk merayakan hari raya Natal. 

Wednesday, March 27, 2024

S memasak Gabby's Dollhouse Carrot Cake

 "Ibu, aku mau buat carrot cake!" kata S tiba-tiba sepulang sekolah saat kami menunggu metro. Aku terkaget-kaget dibuatnya. Aku memang sedang memikirkan apakah sebaiknya aku membuat cheesecake untuk dibawa ke acara buka bersama besok. 

"Oh, untuk dibawa besok waktu buka bersama?" tanyaku.

"Iya, tapi besok pagi aku makan dulu, ya," katanya ceria. Aku tertawa geli. Kalau sudah dimakan, nggak pantas dibawa ke acara, dong. Tapi kuiyakan juga keinginannya.

"Memangnya Stella tahu darimana carrot cake?" tanyaku ingin tahu. Seingatku S belum pernah kubuatkan carrot cake. Aku pernah membuatkan A, kakaknya, carrot cake sebagai cemilan yang sehat karena ada wortel dan kacang-kacangan di dalamnya. Akan tetapi karena A kurang suka, aku tak pernah membuatnya lagi. 

"Dari Gabby's Dollhouse!" jawab Stella mantap menyebutkan serial kartun favoritnya.

"Oalah," aku tertawa. "Ibu belum pernah buat carrot cake-nya Gabby's Dollhouse. Kita cari resepnya dulu, ya," kataku sambil mulai mencari resepnya di gawaiku sementara kami duduk di metro. 

"Ketemu, nggak, bu?" tanya S tak sabar. 

"Hmmm, nggak ada resepnya, nih. Cuma ada orang-orang yang membuat cake dengan tema Gabby's Dollhouse dan episode Gabby's Dollhouse membuat cake. Kita pakai resep lain saja, ya?" Jawabku sambil memperlihatkan halaman hasil pencarianku.

"No. We'll just have to watch Gabby's Dollhouse and get the recipe!" Katanya memberikan solusi.

"Aku udah punya wortelnya di tas," lanjutnya lagi.

"Ooo, tadi dapat wortel dari sekolah waktu fruit-eten?" tanyaku. Mulai terlihat, nih, benang merah kejadiannya. 

"Iya," katanya senang, "The carrot cake will be so yummy!" ungkapnya yakin sambil kami melangkah  keluar dari stasiun metro.

Aku tertawa. Sekarang aku mengerti kenapa tiba-tiba S mau membuat carrot cake. Di sekolahnya selalu ada jam makan buah (fruit-eten). Selain anak-anak boleh membawa sendiri buah favorit mereka, sekolah juga menyediakan buah-buahan dan sayuran untuk dimakan bersama. S yang sejauh ini cuma mau makan bekalnya sendiri, berupa pisang dan anggur (cuma yang merah saja dan harus dikupas kulitnya), biasanya akan dibawakan pulang buah atau sayur yang tidak dimakan di sekolah. Sering ia membawa pulang apel atau jeruk, pernah pula lobak. Kali ini rupanya ia dibawakan wortel lalu jadilah ia punya ide membuat cake seperti film kartun kesayangannya. 

Kukira S iseng-iseng saja menuturkan idenya tadi. Rupanya ia benar-benar serius. Setelah selesai mandi dan berganti baju di rumah ia langsung menagih, "Kita nonton Gabby's Dollhouse, terus aku mau buat carrot cake sekarang!" katanya.

Aku tersenyum mengiyakan. Kalau sudah ada keinginannya, S tidak bisa dialihkan perhatiannya. Benar saja, dengan cepat ia bisa langsung mendapatkan episodenya. Bersama-sama kami menontonnya sambil aku bersiap mencatat resepnya.

Di luar dugaan, episode yang dimaksud ternyata  tentang sulap! Bukan masak-memasak seperti yang kuharapkan. Aku tertawa geli sambil mencatat resep yang dibacakan tokoh Cakey. Instruksinya adalah masukkan semua bahan kue ke topi sulap, aduk-aduk dengan tongkat ajaib, lalu "Abra-cat-dabra!" jadilah carrot cake lengkap dengan dekorasi wortel cantik di atasnya. Harus kuakui carrot cake di film itu memang terlihat enak sekali! Tapi, kan, itu hanya film kartun saja.

Aku pun berusaha membujuk S untuk menggunakan resep lain saja, tapi S tetap berkeras. Setelah kulihat, rupanya komposisi bahan utamanya cukup mirip resep lain yang sudah teruji. Baiklah, walaupun aku skeptis, tak ada salahnya mencoba pikirku. Aku pun bergerak mengecek ketersediaan semua bahannya. 

"Pakai mixer atau mau aduk-aduk manual, S?" tanyaku sambil memberikan baskom kepadanya. 

"Aduk-aduk saja!" jawabnya mantap. Lalu dengan sigap ia memecahkan dua telur, menakar 1.5 cangkir gula (sambil mengambil sesendok untuk dicicipinya), dan mengaduk-aduk sambil menakar dan memasukkan semua bahan lainnya ke baskom. Ia sempat kesulitan memecahkan telur, karena ia hanya ingin membuat lubang kecil saja di cangkangnya. Akan tetapi ia menolak ketika hendak kubantu. Setelah sekian lama akhirnya ia berhasil sendiri memecahkan telur masalahnya. Aku hanya membantu mengaduk-aduk di akhir, memastikan semua tercampur rata. Bersama kami menuangkan adonannya di cetakan, lalu memasukkannya ke oven.

Seperti sulap, ternyata cake-nya jadi! S dengan antusias langsung memotongnya menjadi 4 bagian dan mengambil 1/4 bagiannya. Ia menolak ketika hendak kuusulkan memotong-motong cake-nya lebih kecil.

"Enak, S?" tanyaku. 

"Enak sekali!" jawabnya antusias dengan mata berbinar-binar sambil melahap carrot cake-nya.

Pada waktu buka puasa, aku, ayahnya dan A, kakak S, ikut merasakan carrot cake Gabby's Dollhouse buatan S. Ternyata memang benar enak! 

Untuk A bahkan 1/4 cake bagiannya tidak cukup. Ia meminta lagi, dan lagi, dari bagianku dan ayahnya. S tersenyum-senyum dengan senang melihat kami makan sambil menerima pujian-pujian kami. Ia terlihat bangga sekali! Alhamdulillah. 

Aku jadi bersyukur telah memilih untuk mendengarkan, mempercayai dan mendukung keinginan S mencoba sendiri dan tidak memaksakan menggunakan resep yang sudah kuketahui berhasil.

Semoga ini menjadi core memory untuk S supaya selalu percaya diri akan pendapatnya. Juga bahwa kalau ia sudah berteguh hati melakukan sesuatu dan bersungguh-sungguh, pasti ia bisa! 


Wednesday, March 13, 2024

Stok makanan Ramadan!

Sebagai yang secara de facto selalu ditanyai: "Makan apa kita?," dan satu-satunya yang bertanggungjawab menyiapkan makanan sahur dan berbuka di rumah, salah satu kecemasan terbesarku saat Ramadan adalah tak ada makanan ketika azan hampir tiba. Alhamdulillah, sekarang dengan bantuan teknologi dalam beberapa menit makanan bisa tersaji. Memudahkan sekali untukku generasi (hampir) millenial yang, kalau bisa, inginnya semua serba instan. Asal sudah ada stok makanan di kulkas atau freezer, yang kulakukan di saat darurat tinggal memasukkannya ke microwave / oven. Oleh karena itu benda penting untuk pendukung Ramadan buatku adalah microwave, oven, juga kulkas dan freezer

Menu andalanku saat Ramadan adalah: apa saja yang bisa tersaji dalam hitungan menit! Falsafah ini niatnya untuk mempersingkat waktu yang kuhabiskan memasak di bulan Ramadan. Tujuanku supaya waktu yang dihemat bisa digunakan untuk mengejar target Ramadan lainnya. Tentu saja aku tetap ingin makanannya memenuhi kriteria kesehatan dan enak. Untuk itu stok makanan beku adalah jalan ninjaku. Ada yang kubuat sendiri, ada juga yang kubeli jadi. 

Menu makanan beku buatanku berevolusi dari tahun ke tahun. Awal merantau, resep yang kubawa dari Ibuku adalah ayam yang diungkep dengan bawang putih dengan api kecil. Ketika mau makan, ayam itu lalu digoreng dengan tepung Kobe.  

Teman kuliah dari Pakistan lalu memperkenalkanku pada bumbu cepat saji qeema masala. Daging giling dimatangkan di tumisan (banyak) bawang bombay, lalu tuangkan se-sachet bumbunya. Qeema sendiri artinya daging giling, masala artinya bumbu. Pada makanan ini lalu bisa ditambahkan kentang (aloo qeema), bayam (palak qeema) dan lain-lain sesuka kita. Sebelum Ramadan aku membuat qeema ini dalam jumlah banyak untuk kusimpan di freezer. Setiap sahur / berbuka lalu kupanaskan sedikit-sedikit sambil ditambahkan sayuran apa saja yang ada.

Ketika sudah agak jago masak, menu yang kubuat dan simpan di freezer lebih bervariasi: terik daging, ayam panggang bumbu rujak / kuning, empal. Apa saja yang bisa dibekukan dan tinggal dipanaskan di microwave/ oven dalam beberapa menit. Ramadan ini menu yang kusiapkan beku adalah bakso, tempe tahu bacem, sayap ayam bumbu kuning, dan rendang permintaan anakku. Beberapa hari sebelum Ramadan aku disibukkan dengan urusan berbelanja, food prep, dan memasak semuanya. Kulkas kini penuh porsi-porsi makanan yang sudah berlabel, tinggal dipilih dan dipanaskan ketika dibutuhkan.

Dalam hal makanan siap saji, beruntung sekali di Belanda ini ada banyak pilihan makanan halal. Di kota kecilku di Itali dulu cuma ada burger yang teksturnya lebih seperti bakso / sosis. Di Belanda, selain pilihan makanan halalnya banyak, toko yang menjualnya juga banyak. Supermarket umum pun punya bagian khusus makanan halal. Lebih spesialnya lagi, bulan Ramadan juga dijadikan ajang untuk promosi diskon berbagai makanan halal oleh supermarket-supermarket disini. Oleh karena itu di peti beku kami Ramadan ini ada juga daging kebab beku, lahmacun (pizza turki dengan daging giling di atasnya), nugget, frikandel (Menu olahan daging giling dengan tekstur seperti bakso berbentuk sosis. Konon frikandel ini adalah asal kata perkedel.), kipcorn (corndog dengan isi seperti nugget ayam), dan juga kroket. Produk Belanda dan halal semua, Alhamdulillah.  Walaupun sejujurnya menurutku perkedel, kroket dan bitterballen gaya Indonesia jauh lebih enak daripada di tempat asalnya Belanda sini. 

Tak ketinggalan tentu saja aku juga menstok makanan kebanggaan Indonesia: Indomie! Sekardus Indomie Kari Ayam dan Indomie Goreng sudah siap sebelum Ramadan. Tak lupa juga Pop Mie yang sudah kustok ketika sedang promosi di supermarket. Walau tidak ideal dari segi gizi untuk dikonsumsi selama Ramadan, Indomie ini penyemangat utama anakku A untuk berlatih puasa! Apa boleh buat, sekali-sekali boleh lah supaya ia semangat.

Alhamdulillah, Ramadan ini stok makanan kami lengkap. Semoga mendukung ibadah kami semaksimal mungkin, amiin amiin.

Monday, March 04, 2024

Brownies

Perkenalan pertamaku dengan brownies adalah di Bandung, sewaktu kuliah di ITB. Bukan brownies Amanda, yang baru muncul dan mulai terkenal saat itu, tapi justru brownies buatan salah satu teman kos-ku di Cisitu. Sahabat kesayanganku ini, N, sudah berjiwa entrepreneur sejak dulu. Di saat aku cuma sibuk berkutat dengan tugas-tugas besar dan tenggelam di buku-buku tebal bajakan dari fotokopian Dunia Baru, ia sudah membangun usaha sampingannya sambil kuliah. N berkongsi dengan salah satu teman kos yang lain untuk bekerjasama membuat puding cup dan brownies yang lalu dititipkan di toko kelontong dekat kos-kosan kami. 

Untukku dulu memasak, apalagi membuat brownies seperti yang N lakukan, adalah hal yang ajaib. Ke dapur saja hampir aku tak pernah. Sejak kos semasa SMA aku bergantung pada makanan jadi dari ibu kos atau warung. Dengan keterbatasan uang bulanan, makanan enak seperti kue-kue dan brownies itu adalah makanan mewah yang cuma bisa dimakan kalau waktu liburan pulang ke rumah: program perbaikan gizi dari Ibuku. Jadi bahwa makanan seenak brownies bisa dibuat sendiri di dapur kos-kosan kami yang seadanya itu benar-benar amazing buatku!


Tentu saja buat N itu tidak semudah mengayunkan tongkat ajaib. N belajar memasak dari ibunya yang biasa menerima pesanan kue-kue untuk acara-acara. Untuk memulai usahanya, N membeli oven tangkring untuk dipakai di atas kompor dapur kos-kosan kami dan membawa mixer serta peralatan masaknya dari Jakarta. Ia berbelanja bahan kuenya di toko bahan kue di Simpang dan dengan detil menghitung pengeluaran termasuk penggunaan gas kompor milik bersama untuk menetapkan harga jualnya. Ia juga membuat kotak kue cantik yang dihiasnya dengan kertas kado untuk menaruh kue yang dijualnya di toko. Malam ia akan membuat adonan dan memanggang browniesnya. Paginya browniesnya dipotong-potong dan dikemas untuk dijual per potong. Telaten dan keren banget, deh, pokoknya N dalam berbisnis! Kata N konon ini karena keturunan Arab-nya, jadi jiwa bisnis sudah kental di keluarganya. 


Sebagai fans berat brownies N awalnya aku membeli browniesnya sebelum dibawa ke toko. Namun kemudian sempat N protes, karena terlalu banyak dibeli duluan di kos jadi sedikit yang bisa dibawa ke toko. Akhirnya beberapa kali kubela-belain, deh, beli ke toko dekat kos. Sisa yang tak habis terjual di toko juga kadang jadi rezeki bisa kubeli. Duh, nikmat sekali dulu rasanya bisa makan brownies yang enak di kos-kosan hampir tiap hari!


Ketika waktu libur tiba, terinspirasi dari N aku jadi ingin membawakan brownies untuk orangtuaku. Namun, sebagai orang terlalu PD, aku ingin membuatnya sendiri: penuh cinta untuk Bapak Ibuku! Maka aku pun ikut N berbelanja bahan dan membeli sendiri bahan untuk 1 loyang. Dengan meminjam semua peralatan N dan dengan semangat '45 aku membuat brownies mengikuti resep N. Tentu saja sambil terus menerus bertanya dengan rewel ini itu detail cara pembuatannya. Pakai protes segala: "Masa, sih, minyak goreng dipakai untuk buat cake?".  Sekarang setelah kupikir-pikir, kebangetan juga aku ini ngerepotin N. Masya Allah, sabar sekali N padaku! 

Dan hasilnya... gagal! Hahaha.

Entah mengapa brownies yang kupanggang lengket di loyang. Warnanya, sih, sudah betul coklat kehitaman. Akan tetapi teksturnya berbulir-bulir lengket, jauh beda dari brownies yang lembut, dan bentuknya juga tidak jelas. Apa boleh buat, sudah waktunya liburan, kubawa lah brownies gagal itu mudik.


Sampai rumah, sambil lalu kutaruh brownies itu di meja makan. "Ini aku bikin brownies, Bu, Bapak, tapi gagal, hehehe," lalu kutinggal lah brownies itu sementara aku sibuk dengan hal lain. Mungkin bongkar-bongkar baju kotor bawaan, hihi.

Tak disangka ketika kemudian aku kembali ke meja makan, Bapakku sedang dengan nikmat memakan brownies gagalku. Aku langsung dengan panik berusaha menghentikan beliau. "Jangan dimakan, Bapak. Itu gagal browniesnya, nggak enak!".

Namun Bapakku dengan santai tetap menyendok langsung dari loyang brownies yang sekarang sudah berkurang setengah lebih isinya. "Enak, kok, ini!".

Tidak tega rasanya aku melihat Bapakku memakan brownies gagalku. Akan tetapi  terharu sekali juga rasanya menyadari betapa suportifnya Bapakku kepadaku. Bapakku menghargai sekali usahaku membuat brownies itu walau hasilnya gagal. Allahuma barik, semoga Allah SWT membalas menyayangi Bapak Ibuku sebaik-baiknya, lebih dari Bapak Ibuku menyayangiku selalu.

Alhamdulillah sekarang, setelah melanglang buana dan terpaksa masak kalau mau makan, skill masak memasakku sudah lebih baik. Tak hanya brownies, berbagai macam cake lain sampai yang tricky seperti bolu gulung dan dobos torte pun Alhamdulillah kini bisa kubuat. Akan tetapi brownies selalu tetap di hati. Brownies selalu jadi pilihanku saat ingin sesuatu yang menyenangkan hati atau saat harus cepat-cepat membuat sesuatu untuk berbagi di acara dengan teman-teman. Aku selalu memastikan di rumah selalu ada coklat blok, mentega, terigu, gula dan telur sehingga sewaktu-waktu aku dapat membuatnya. Membuatnya mudah dan cepat, dan variasi toppingnya bisa dikreasikan tanpa batas. 

Anak-anakku, Alhamdulillah, juga selalu menikmati brownies buatanku. Putraku suka brownies dengan topping kacang-kacangan yang berlimpah, sementara putriku lebih menyukai brownies tanpa topping. Senang sekali rasanya tiap melihat mereka makan dengan lahap brownies buatanku. Semoga sampai nanti makan brownies akan selalu mengingatkan mereka akan rasa sayangku pada mereka, sebagaimana aku teringat rasa sayang Bapakku padaku, amiin.


Wednesday, February 07, 2024

Aku yang Dulu

Siapakah aku yang dulu? 

Susah rasanya melihat jejaknya di cermin. Aku sendiri sudah lupa rasanya siapa aku. Tapi, aku ingat kata-kata orang tentang aku yang dulu.

Mata yang sedih ini dulu kata bulik, adik ibuku, adalah mata yang ceria menyampaikan senyuman. "Bahkan sejak bayi", tekan beliau. 

Yah, rasanya aku yang dulu memang selalu penuh senyum dan bahagia. Mengenangnya hatiku terasa penuh dan senang. Aku yang dulu selalu dikelilingi keluarga dan sahabat yang sayang sekali padaku. Mereka selalu mendukungku, mempercayaiku, menghargai dan senang menghabiskan waktu bersamaku. Kawan-kawanku selalu menulis pada testimoni mereka tentang aku bahwa aku selalu ceria dan tersenyum. 

Aku yang dulu sangat aktif. Sejak SMA kegiatanku berderet dari mulai kegiatan baris-berbaris,  kerohanian siswa, sampai karya tulis ilmiah. Pengalaman berorganisasiku lengkap, mulai dari mengadakan pengajian, dengan sekat antara perempuan dan laki-laki, ospek SMA lalu jurusan, sampai mengadakan acara-acara pentas seni yang mendatangkan band ternama seperti Sheila on 7, lalu juga Cokelat. Oleh karena itu kawan-kawanku pun banyak dan tersebar dari berbagai kalangan.

Kalau berkumpul dengan teman-teman lama, mereka selalu bercerita tentang aku yang pintar. Kadang-kadang aku pun tidak ingat peristiwanya, tapi lalu mereka yang mengingatkan ketika aku mendapat nilai tertinggi di suatu kuliah, misalnya. Tapi rasanya aku harus mengatributkan gelar pintar itu ke kerja keras.

Aku yang dulu sangat produktif. Waktuku penuh diisi dengan belajar dan beribadah. Ibuku bercerita bagaimana dalam perjalanan kereta pada saat sakit pun aku tetap sibuk mengerjakan lembar-lembar soal matematika SMA. Dalam keadaan kritis demam berdarah aku berkeras tidak mau di-opname di rumah sakit karena aku harus mengerjakan tugas-tugas kuliahku. Teman-teman kos SMA dan kuliahku bercerita tentang aku yang selalu terlihat di kamar bergadang sampai larut malam belajar dan bangun dini hari tahajjud.

Ah, aku yang dulu sungguh senang sekali belajar. Dari SD sampai S3 Allah mengaruniakan banyak sekali ilmu kepadaku. Mimpi-mimpiku untuk masuk SMA terbaik, lalu jurusan ITB dengan passing grade paling tinggi, kemudian beasiswa penuh untuk S2 dan S3 di luar negeri semua dikabulkan Allah SWT. Masya Allah, Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar. Kadang-kadang aku terlupa begitu banyaknya nikmat yang telah kuterima dan lupa bersyukur.

Aku melihat kembali ke cermin. Susah rasanya melihat aku yang dulu : penuh senyum, percaya diri, pintar, pekerja keras, penuh harapan dan mimpi. Tapi merenungi aku yang dulu, kusadari aku yang dulu masih disitu. Mungkin, masih ada harapan untuk aku yang sekarang juga.