Wednesday, March 27, 2024

S memasak Gabby's Dollhouse Carrot Cake

 "Ibu, aku mau buat carrot cake!" kata S tiba-tiba sepulang sekolah saat kami menunggu metro. Aku terkaget-kaget dibuatnya. Aku memang sedang memikirkan apakah sebaiknya aku membuat cheesecake untuk dibawa ke acara buka bersama besok. 

"Oh, untuk dibawa besok waktu buka bersama?" tanyaku.

"Iya, tapi besok pagi aku makan dulu, ya," katanya ceria. Aku tertawa geli. Kalau sudah dimakan, nggak pantas dibawa ke acara, dong. Tapi kuiyakan juga keinginannya.

"Memangnya Stella tahu darimana carrot cake?" tanyaku ingin tahu. Seingatku S belum pernah kubuatkan carrot cake. Aku pernah membuatkan A, kakaknya, carrot cake sebagai cemilan yang sehat karena ada wortel dan kacang-kacangan di dalamnya. Akan tetapi karena A kurang suka, aku tak pernah membuatnya lagi. 

"Dari Gabby's Dollhouse!" jawab Stella mantap menyebutkan serial kartun favoritnya.

"Oalah," aku tertawa. "Ibu belum pernah buat carrot cake-nya Gabby's Dollhouse. Kita cari resepnya dulu, ya," kataku sambil mulai mencari resepnya di gawaiku sementara kami duduk di metro. 

"Ketemu, nggak, bu?" tanya S tak sabar. 

"Hmmm, nggak ada resepnya, nih. Cuma ada orang-orang yang membuat cake dengan tema Gabby's Dollhouse dan episode Gabby's Dollhouse membuat cake. Kita pakai resep lain saja, ya?" Jawabku sambil memperlihatkan halaman hasil pencarianku.

"No. We'll just have to watch Gabby's Dollhouse and get the recipe!" Katanya memberikan solusi.

"Aku udah punya wortelnya di tas," lanjutnya lagi.

"Ooo, tadi dapat wortel dari sekolah waktu fruit-eten?" tanyaku. Mulai terlihat, nih, benang merah kejadiannya. 

"Iya," katanya senang, "The carrot cake will be so yummy!" ungkapnya yakin sambil kami melangkah  keluar dari stasiun metro.

Aku tertawa. Sekarang aku mengerti kenapa tiba-tiba S mau membuat carrot cake. Di sekolahnya selalu ada jam makan buah (fruit-eten). Selain anak-anak boleh membawa sendiri buah favorit mereka, sekolah juga menyediakan buah-buahan dan sayuran untuk dimakan bersama. S yang sejauh ini cuma mau makan bekalnya sendiri, berupa pisang dan anggur (cuma yang merah saja dan harus dikupas kulitnya), biasanya akan dibawakan pulang buah atau sayur yang tidak dimakan di sekolah. Sering ia membawa pulang apel atau jeruk, pernah pula lobak. Kali ini rupanya ia dibawakan wortel lalu jadilah ia punya ide membuat cake seperti film kartun kesayangannya. 

Kukira S iseng-iseng saja menuturkan idenya tadi. Rupanya ia benar-benar serius. Setelah selesai mandi dan berganti baju di rumah ia langsung menagih, "Kita nonton Gabby's Dollhouse, terus aku mau buat carrot cake sekarang!" katanya.

Aku tersenyum mengiyakan. Kalau sudah ada keinginannya, S tidak bisa dialihkan perhatiannya. Benar saja, dengan cepat ia bisa langsung mendapatkan episodenya. Bersama-sama kami menontonnya sambil aku bersiap mencatat resepnya.

Di luar dugaan, episode yang dimaksud ternyata  tentang sulap! Bukan masak-memasak seperti yang kuharapkan. Aku tertawa geli sambil mencatat resep yang dibacakan tokoh Cakey. Instruksinya adalah masukkan semua bahan kue ke topi sulap, aduk-aduk dengan tongkat ajaib, lalu "Abra-cat-dabra!" jadilah carrot cake lengkap dengan dekorasi wortel cantik di atasnya. Harus kuakui carrot cake di film itu memang terlihat enak sekali! Tapi, kan, itu hanya film kartun saja.

Aku pun berusaha membujuk S untuk menggunakan resep lain saja, tapi S tetap berkeras. Setelah kulihat, rupanya komposisi bahan utamanya cukup mirip resep lain yang sudah teruji. Baiklah, walaupun aku skeptis, tak ada salahnya mencoba pikirku. Aku pun bergerak mengecek ketersediaan semua bahannya. 

"Pakai mixer atau mau aduk-aduk manual, S?" tanyaku sambil memberikan baskom kepadanya. 

"Aduk-aduk saja!" jawabnya mantap. Lalu dengan sigap ia memecahkan dua telur, menakar 1.5 cangkir gula (sambil mengambil sesendok untuk dicicipinya), dan mengaduk-aduk sambil menakar dan memasukkan semua bahan lainnya ke baskom. Ia sempat kesulitan memecahkan telur, karena ia hanya ingin membuat lubang kecil saja di cangkangnya. Akan tetapi ia menolak ketika hendak kubantu. Setelah sekian lama akhirnya ia berhasil sendiri memecahkan telur masalahnya. Aku hanya membantu mengaduk-aduk di akhir, memastikan semua tercampur rata. Bersama kami menuangkan adonannya di cetakan, lalu memasukkannya ke oven.

Seperti sulap, ternyata cake-nya jadi! S dengan antusias langsung memotongnya menjadi 4 bagian dan mengambil 1/4 bagiannya. Ia menolak ketika hendak kuusulkan memotong-motong cake-nya lebih kecil.

"Enak, S?" tanyaku. 

"Enak sekali!" jawabnya antusias dengan mata berbinar-binar sambil melahap carrot cake-nya.

Pada waktu buka puasa, aku, ayahnya dan A, kakak S, ikut merasakan carrot cake Gabby's Dollhouse buatan S. Ternyata memang benar enak! 

Untuk A bahkan 1/4 cake bagiannya tidak cukup. Ia meminta lagi, dan lagi, dari bagianku dan ayahnya. S tersenyum-senyum dengan senang melihat kami makan sambil menerima pujian-pujian kami. Ia terlihat bangga sekali! Alhamdulillah. 

Aku jadi bersyukur telah memilih untuk mendengarkan, mempercayai dan mendukung keinginan S mencoba sendiri dan tidak memaksakan menggunakan resep yang sudah kuketahui berhasil.

Semoga ini menjadi core memory untuk S supaya selalu percaya diri akan pendapatnya. Juga bahwa kalau ia sudah berteguh hati melakukan sesuatu dan bersungguh-sungguh, pasti ia bisa! 


Wednesday, March 13, 2024

Stok makanan Ramadan!

Sebagai yang secara de facto selalu ditanyai: "Makan apa kita?," dan satu-satunya yang bertanggungjawab menyiapkan makanan sahur dan berbuka di rumah, salah satu kecemasan terbesarku saat Ramadan adalah tak ada makanan ketika azan hampir tiba. Alhamdulillah, sekarang dengan bantuan teknologi dalam beberapa menit makanan bisa tersaji. Memudahkan sekali untukku generasi (hampir) millenial yang, kalau bisa, inginnya semua serba instan. Asal sudah ada stok makanan di kulkas atau freezer, yang kulakukan di saat darurat tinggal memasukkannya ke microwave / oven. Oleh karena itu benda penting untuk pendukung Ramadan buatku adalah microwave, oven, juga kulkas dan freezer

Menu andalanku saat Ramadan adalah: apa saja yang bisa tersaji dalam hitungan menit! Falsafah ini niatnya untuk mempersingkat waktu yang kuhabiskan memasak di bulan Ramadan. Tujuanku supaya waktu yang dihemat bisa digunakan untuk mengejar target Ramadan lainnya. Tentu saja aku tetap ingin makanannya memenuhi kriteria kesehatan dan enak. Untuk itu stok makanan beku adalah jalan ninjaku. Ada yang kubuat sendiri, ada juga yang kubeli jadi. 

Menu makanan beku buatanku berevolusi dari tahun ke tahun. Awal merantau, resep yang kubawa dari Ibuku adalah ayam yang diungkep dengan bawang putih dengan api kecil. Ketika mau makan, ayam itu lalu digoreng dengan tepung Kobe.  

Teman kuliah dari Pakistan lalu memperkenalkanku pada bumbu cepat saji qeema masala. Daging giling dimatangkan di tumisan (banyak) bawang bombay, lalu tuangkan se-sachet bumbunya. Qeema sendiri artinya daging giling, masala artinya bumbu. Pada makanan ini lalu bisa ditambahkan kentang (aloo qeema), bayam (palak qeema) dan lain-lain sesuka kita. Sebelum Ramadan aku membuat qeema ini dalam jumlah banyak untuk kusimpan di freezer. Setiap sahur / berbuka lalu kupanaskan sedikit-sedikit sambil ditambahkan sayuran apa saja yang ada.

Ketika sudah agak jago masak, menu yang kubuat dan simpan di freezer lebih bervariasi: terik daging, ayam panggang bumbu rujak / kuning, empal. Apa saja yang bisa dibekukan dan tinggal dipanaskan di microwave/ oven dalam beberapa menit. Ramadan ini menu yang kusiapkan beku adalah bakso, tempe tahu bacem, sayap ayam bumbu kuning, dan rendang permintaan anakku. Beberapa hari sebelum Ramadan aku disibukkan dengan urusan berbelanja, food prep, dan memasak semuanya. Kulkas kini penuh porsi-porsi makanan yang sudah berlabel, tinggal dipilih dan dipanaskan ketika dibutuhkan.

Dalam hal makanan siap saji, beruntung sekali di Belanda ini ada banyak pilihan makanan halal. Di kota kecilku di Itali dulu cuma ada burger yang teksturnya lebih seperti bakso / sosis. Di Belanda, selain pilihan makanan halalnya banyak, toko yang menjualnya juga banyak. Supermarket umum pun punya bagian khusus makanan halal. Lebih spesialnya lagi, bulan Ramadan juga dijadikan ajang untuk promosi diskon berbagai makanan halal oleh supermarket-supermarket disini. Oleh karena itu di peti beku kami Ramadan ini ada juga daging kebab beku, lahmacun (pizza turki dengan daging giling di atasnya), nugget, frikandel (Menu olahan daging giling dengan tekstur seperti bakso berbentuk sosis. Konon frikandel ini adalah asal kata perkedel.), kipcorn (corndog dengan isi seperti nugget ayam), dan juga kroket. Produk Belanda dan halal semua, Alhamdulillah.  Walaupun sejujurnya menurutku perkedel, kroket dan bitterballen gaya Indonesia jauh lebih enak daripada di tempat asalnya Belanda sini. 

Tak ketinggalan tentu saja aku juga menstok makanan kebanggaan Indonesia: Indomie! Sekardus Indomie Kari Ayam dan Indomie Goreng sudah siap sebelum Ramadan. Tak lupa juga Pop Mie yang sudah kustok ketika sedang promosi di supermarket. Walau tidak ideal dari segi gizi untuk dikonsumsi selama Ramadan, Indomie ini penyemangat utama anakku A untuk berlatih puasa! Apa boleh buat, sekali-sekali boleh lah supaya ia semangat.

Alhamdulillah, Ramadan ini stok makanan kami lengkap. Semoga mendukung ibadah kami semaksimal mungkin, amiin amiin.

Monday, March 04, 2024

Brownies

Perkenalan pertamaku dengan brownies adalah di Bandung, sewaktu kuliah di ITB. Bukan brownies Amanda, yang baru muncul dan mulai terkenal saat itu, tapi justru brownies buatan salah satu teman kos-ku di Cisitu. Sahabat kesayanganku ini, N, sudah berjiwa entrepreneur sejak dulu. Di saat aku cuma sibuk berkutat dengan tugas-tugas besar dan tenggelam di buku-buku tebal bajakan dari fotokopian Dunia Baru, ia sudah membangun usaha sampingannya sambil kuliah. N berkongsi dengan salah satu teman kos yang lain untuk bekerjasama membuat puding cup dan brownies yang lalu dititipkan di toko kelontong dekat kos-kosan kami. 

Untukku dulu memasak, apalagi membuat brownies seperti yang N lakukan, adalah hal yang ajaib. Ke dapur saja hampir aku tak pernah. Sejak kos semasa SMA aku bergantung pada makanan jadi dari ibu kos atau warung. Dengan keterbatasan uang bulanan, makanan enak seperti kue-kue dan brownies itu adalah makanan mewah yang cuma bisa dimakan kalau waktu liburan pulang ke rumah: program perbaikan gizi dari Ibuku. Jadi bahwa makanan seenak brownies bisa dibuat sendiri di dapur kos-kosan kami yang seadanya itu benar-benar amazing buatku!


Tentu saja buat N itu tidak semudah mengayunkan tongkat ajaib. N belajar memasak dari ibunya yang biasa menerima pesanan kue-kue untuk acara-acara. Untuk memulai usahanya, N membeli oven tangkring untuk dipakai di atas kompor dapur kos-kosan kami dan membawa mixer serta peralatan masaknya dari Jakarta. Ia berbelanja bahan kuenya di toko bahan kue di Simpang dan dengan detil menghitung pengeluaran termasuk penggunaan gas kompor milik bersama untuk menetapkan harga jualnya. Ia juga membuat kotak kue cantik yang dihiasnya dengan kertas kado untuk menaruh kue yang dijualnya di toko. Malam ia akan membuat adonan dan memanggang browniesnya. Paginya browniesnya dipotong-potong dan dikemas untuk dijual per potong. Telaten dan keren banget, deh, pokoknya N dalam berbisnis! Kata N konon ini karena keturunan Arab-nya, jadi jiwa bisnis sudah kental di keluarganya. 


Sebagai fans berat brownies N awalnya aku membeli browniesnya sebelum dibawa ke toko. Namun kemudian sempat N protes, karena terlalu banyak dibeli duluan di kos jadi sedikit yang bisa dibawa ke toko. Akhirnya beberapa kali kubela-belain, deh, beli ke toko dekat kos. Sisa yang tak habis terjual di toko juga kadang jadi rezeki bisa kubeli. Duh, nikmat sekali dulu rasanya bisa makan brownies yang enak di kos-kosan hampir tiap hari!


Ketika waktu libur tiba, terinspirasi dari N aku jadi ingin membawakan brownies untuk orangtuaku. Namun, sebagai orang terlalu PD, aku ingin membuatnya sendiri: penuh cinta untuk Bapak Ibuku! Maka aku pun ikut N berbelanja bahan dan membeli sendiri bahan untuk 1 loyang. Dengan meminjam semua peralatan N dan dengan semangat '45 aku membuat brownies mengikuti resep N. Tentu saja sambil terus menerus bertanya dengan rewel ini itu detail cara pembuatannya. Pakai protes segala: "Masa, sih, minyak goreng dipakai untuk buat cake?".  Sekarang setelah kupikir-pikir, kebangetan juga aku ini ngerepotin N. Masya Allah, sabar sekali N padaku! 

Dan hasilnya... gagal! Hahaha.

Entah mengapa brownies yang kupanggang lengket di loyang. Warnanya, sih, sudah betul coklat kehitaman. Akan tetapi teksturnya berbulir-bulir lengket, jauh beda dari brownies yang lembut, dan bentuknya juga tidak jelas. Apa boleh buat, sudah waktunya liburan, kubawa lah brownies gagal itu mudik.


Sampai rumah, sambil lalu kutaruh brownies itu di meja makan. "Ini aku bikin brownies, Bu, Bapak, tapi gagal, hehehe," lalu kutinggal lah brownies itu sementara aku sibuk dengan hal lain. Mungkin bongkar-bongkar baju kotor bawaan, hihi.

Tak disangka ketika kemudian aku kembali ke meja makan, Bapakku sedang dengan nikmat memakan brownies gagalku. Aku langsung dengan panik berusaha menghentikan beliau. "Jangan dimakan, Bapak. Itu gagal browniesnya, nggak enak!".

Namun Bapakku dengan santai tetap menyendok langsung dari loyang brownies yang sekarang sudah berkurang setengah lebih isinya. "Enak, kok, ini!".

Tidak tega rasanya aku melihat Bapakku memakan brownies gagalku. Akan tetapi  terharu sekali juga rasanya menyadari betapa suportifnya Bapakku kepadaku. Bapakku menghargai sekali usahaku membuat brownies itu walau hasilnya gagal. Allahuma barik, semoga Allah SWT membalas menyayangi Bapak Ibuku sebaik-baiknya, lebih dari Bapak Ibuku menyayangiku selalu.

Alhamdulillah sekarang, setelah melanglang buana dan terpaksa masak kalau mau makan, skill masak memasakku sudah lebih baik. Tak hanya brownies, berbagai macam cake lain sampai yang tricky seperti bolu gulung dan dobos torte pun Alhamdulillah kini bisa kubuat. Akan tetapi brownies selalu tetap di hati. Brownies selalu jadi pilihanku saat ingin sesuatu yang menyenangkan hati atau saat harus cepat-cepat membuat sesuatu untuk berbagi di acara dengan teman-teman. Aku selalu memastikan di rumah selalu ada coklat blok, mentega, terigu, gula dan telur sehingga sewaktu-waktu aku dapat membuatnya. Membuatnya mudah dan cepat, dan variasi toppingnya bisa dikreasikan tanpa batas. 

Anak-anakku, Alhamdulillah, juga selalu menikmati brownies buatanku. Putraku suka brownies dengan topping kacang-kacangan yang berlimpah, sementara putriku lebih menyukai brownies tanpa topping. Senang sekali rasanya tiap melihat mereka makan dengan lahap brownies buatanku. Semoga sampai nanti makan brownies akan selalu mengingatkan mereka akan rasa sayangku pada mereka, sebagaimana aku teringat rasa sayang Bapakku padaku, amiin.


Wednesday, February 07, 2024

Aku yang Dulu

Siapakah aku yang dulu? 

Susah rasanya melihat jejaknya di cermin. Aku sendiri sudah lupa rasanya siapa aku. Tapi, aku ingat kata-kata orang tentang aku yang dulu.

Mata yang sedih ini dulu kata bulik, adik ibuku, adalah mata yang ceria menyampaikan senyuman. "Bahkan sejak bayi", tekan beliau. 

Yah, rasanya aku yang dulu memang selalu penuh senyum dan bahagia. Mengenangnya hatiku terasa penuh dan senang. Aku yang dulu selalu dikelilingi keluarga dan sahabat yang sayang sekali padaku. Mereka selalu mendukungku, mempercayaiku, menghargai dan senang menghabiskan waktu bersamaku. Kawan-kawanku selalu menulis pada testimoni mereka tentang aku bahwa aku selalu ceria dan tersenyum. 

Aku yang dulu sangat aktif. Sejak SMA kegiatanku berderet dari mulai kegiatan baris-berbaris,  kerohanian siswa, sampai karya tulis ilmiah. Pengalaman berorganisasiku lengkap, mulai dari mengadakan pengajian, dengan sekat antara perempuan dan laki-laki, ospek SMA lalu jurusan, sampai mengadakan acara-acara pentas seni yang mendatangkan band ternama seperti Sheila on 7, lalu juga Cokelat. Oleh karena itu kawan-kawanku pun banyak dan tersebar dari berbagai kalangan.

Kalau berkumpul dengan teman-teman lama, mereka selalu bercerita tentang aku yang pintar. Kadang-kadang aku pun tidak ingat peristiwanya, tapi lalu mereka yang mengingatkan ketika aku mendapat nilai tertinggi di suatu kuliah, misalnya. Tapi rasanya aku harus mengatributkan gelar pintar itu ke kerja keras.

Aku yang dulu sangat produktif. Waktuku penuh diisi dengan belajar dan beribadah. Ibuku bercerita bagaimana dalam perjalanan kereta pada saat sakit pun aku tetap sibuk mengerjakan lembar-lembar soal matematika SMA. Dalam keadaan kritis demam berdarah aku berkeras tidak mau di-opname di rumah sakit karena aku harus mengerjakan tugas-tugas kuliahku. Teman-teman kos SMA dan kuliahku bercerita tentang aku yang selalu terlihat di kamar bergadang sampai larut malam belajar dan bangun dini hari tahajjud.

Ah, aku yang dulu sungguh senang sekali belajar. Dari SD sampai S3 Allah mengaruniakan banyak sekali ilmu kepadaku. Mimpi-mimpiku untuk masuk SMA terbaik, lalu jurusan ITB dengan passing grade paling tinggi, kemudian beasiswa penuh untuk S2 dan S3 di luar negeri semua dikabulkan Allah SWT. Masya Allah, Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar. Kadang-kadang aku terlupa begitu banyaknya nikmat yang telah kuterima dan lupa bersyukur.

Aku melihat kembali ke cermin. Susah rasanya melihat aku yang dulu : penuh senyum, percaya diri, pintar, pekerja keras, penuh harapan dan mimpi. Tapi merenungi aku yang dulu, kusadari aku yang dulu masih disitu. Mungkin, masih ada harapan untuk aku yang sekarang juga.

Tuesday, September 19, 2023

5 stages of receiving a diagnosis

First it was a surprise. That I am a victim of NPD abuse. 


Much like how I got the complex PTSD diagnose. 

Back then it's first disbelief/denial. I don't live in a warzone area.


With this one, I actually brought up the possibility, having seen how the symptoms just match.


The confirmation first felt as a relief. I am not crazy. Something IS wrong with him.


Then I started reading about it. And just like before it feels I am reliving all the painful events.


Now everything is clear, the why : he's a narcissist. Or maybe autistic and narcisstic.


Still, the "answer" doesn't make it hurt less. It hurts more and more now that all the instances, the hurt, swept under the rug, thought to be all my fault, all came back up. 


And together I can see, it's not all my fault as I made myself believe. 

It hurts, it hurts so very much. I am not yet to the next stages... I know i must do something. But this pain is just debilitating. This pain, i need to own it first. That I am hurt, really really hurt.


Being in a state of shock is an understatement.

I am spent, trying my best keeping my face straight from just bursting out ugly crying any second I can when no one's watching.


Monday, September 18, 2023

Validation today

 It doesn't matter whether it's autism or NPD or whatever undiagnosed thing it is / they are. 

I am hurt as a result. 

I am reduced to an empty shell of my former self in the limited space that I am allowed, which is getting smaller and smaller.

Whatever I do doesn't matter because it's never going to please you anyway.

There's something wrong with you. 

And after everything, I have to accept, there's nothing I can do about it. I just have to learn to survive, stay sane, and do my best for the kids.

Sunday, July 09, 2023

Rijksmuseum Amsterdam with kids

 We had a fabulous day out with the kids at the Rijksmuseum Amsterdam today! 

The museum has free entrance for kids under 18 years old, and free for us parents with museumkaart. The travel was free with NS kidsvrij and NS weekendvrij for parents. Taking into account today was the hottest day ever in NL, I think spending it in an airconditioned grand building surrounded with majestic artworks was a real win!

We did Missie Meesterwerk/ Mission Masterpiece family exhibition and Pim & Pom in het Rijksmuseum that we couldn't stop fawning about and we couldn't recommend them highly enough! 

Mission Masterpiece is both in Dutch and English and it got us, the whole family, suited up with labcoats, lanyards with mission checklist, and pencils. My kids immediately copied our instructor who slipped his pencil behind his ear! 

My daughter immediately remarked, "We're all doctors now!", adoring us all in the white coats. Amen my dearest ones, hope you both can be Dr. or dr. too if you wish so, amiin. 

(Notes: XS coatsize was still sweeping-floor length for my 4 year old though, and I saw another little girl with the same problem. Maybe Rijksmuseum could invest in several smaller size labcoats in the future?)

The people who were helping at the Mission Masterpiece were absolutely lovely! They enthusiasticly dressed all of us, and even offered to take a picture for all of us too! Yay for having a non-selfie group pic! 

The instructions were very simple and there are literally step by step written guide for each of the missions (there are 8 of them). The age guide is correct for 8+ but it is indeed absolutely fun for the younger kids too. Just need lots of supervisions and guiding. My 7 year old wanted us to just quickly tell him what to do rather than reading the instructions, and my 4 year old prefers to do whatever she wants to do :D

The missions got them to use microscopes, observing UV light effects on gems, observing X Ray results, ink pigments, growth circle in woods, using magnifying glass to check kimono handcrafted decorations and much more! It was an hour crash course in science over artworks and absolutely worth it! In the end we could make other (silly) group pictures too that we could download. Yay!


Next, we picked up Pim and Pom from the ticket desk. They are two talking cat plushies who are on a mission in hunting a mouse and enlisting our kids help! Pim and Pom are just so cute and huggable and my kids wished so much we could just take them home! Me too honestly, and lots of people around too, since a lady even approached us to ask where she could buy them! I wish, gurl, I wish!  


Make sure Pim and Pom both talks when you picked them from the counter! We had a hiccup that Pom wasn't talking, so we had too go back to the counter to get a new, fully charged Pom. But the people at the counter were just sweet and great and kept on supplying us with pims and poms throughout the day! We went through 2 Pims and 3 Poms in total! 

Pim and Pom are only speaking Dutch and must ( / can?) be pre-reserved online for a 1 hour period for 7.5 eur. However, turned out it was fine for us to use it almost the whole day, yay! 


Due to the first Pom not talking we had to stop our pim pom walkthrough before going to second floor and decided to have lunch first.

And, so, here's another amazing thing for family with kids at Rijksmuseum: a picknick room, indoor at Phillips Wing (just right before you go to the Mission Masterpiece) with clean tables, sink to refill your water and workshop for the kids!

We could just quickly feed our hungry, hungry kids with our packed lunch breads, get them cleaned right after and enjoy a bit of rest while they crafted some artworks after! Again, the staffs are sweet! The kids get great time crafting  (colouring with crayons, watercolours, cutting and pasting) and the parents get a bit of rest on the sofas.

Then, on to the adventure with Pim and Pom! They took us visiting animals in the showpieces:

  1. Ceramic parrot
  2. Monkey who's eating an apple,
  3. Dog on a boat
  4. Angry golden cat
  5. Bees, owl, goat, and an elephant,
  6. A cat in the kitchen (of a dollhouse)
  7. A sleeping dog,
  8. 4 peaches (okay these are not animals)
  9. King lion on a ship
  10. Woofing dog
  11. Angry goose
  12. Finally, the mouse in a flower painting
The kids had to locate them, pet Pim and Pom, and follow their instructions along the way. To hiss as scarily as possible and to sing a lullaby for example.

And along the way, us, the parents, could enjoy some artworks without having to drag bored, unmoving kids from room to room and hopelessly trying to coax them to look at the showpieces! They had to inspect the pieces instead to find their target! The only downside is that they were hurrying us instead to move to the next target. 





Friday, April 07, 2023

Parental win

 A parental win looks just like a normal day. 

When the baby is calmly eating her food, including the greens. Happily enjoying it while watching a show ... That she earlier rejected ... vehemently. 

That sent her to tantrums. With full blown baby rage, crying, kicking, and tears.

The tantrums unnerved the Dad, and sent the situation to full chaos.

The chaos was loud, stressful, filled with rage, tears and fear.

The parental win was quiet. Uncelebrated as everyone just goes on, as if there was no war just erupted. 

In non celebratory manner the "winning" parent must also continue to function normally. Despite the stressful pressure that just passed, the utmost patience and restraints just exercised, the misdirected anger, kicking, and protest just endured. The hours passed with:

- reciting prayers, 

- checking the parenting book for more ideas, 

- hundreds of distractions tried to no avail, 

- breathing exercises to keep the calm and to not join the tantrum too, 

- swinging the baby in various speed and direction to every possible change of scenery,

went unnoticed. 

So, here's for all the parents that have successfully subdued their little one's tantrum while remaining calm! You did it! You're the winner! I see you! And you deserve all the applause, cheers, and confetti in the world! You're the winner!


Thursday, December 22, 2022

Vaccination consent

 Today I spent around 2 hours through the hoops and loops that is Netherlands health system to be able to schedule the second dose of Corona vaccine for my kid. Given A already had an infection in the past, the NL government is against the notation that A should be given a second dose. 


I had to stay and listen to the pros and cons of the second dose. Only then I can consciously decide that I do wish to have the second dose of Corona vaccine for A knowing full well of all the risk.


I do greatly appreciate all the care put into assuring that I know what I am doing when I take the decision. But I can't help thinking, why don't they make everyone goes through this lengthy procedure too before they can decide if they don't want to have the coronavirus vaccination?

Wednesday, March 30, 2022

Vaccination and Booster effects

 Yesterday, prior to getting the booster I was asked how did it go with my previous vaccinations? I just replied, "It went fine, a little bit of fever."

But last night, upon re-suffering it, I remember, totally not just a bit of fever.

First, I felt cold, freezing cold, that layers of clothes didn't help. Then fever, up to 38 degrees Celsius. My whole body hurt, it hurt so much I couldn't sleep and can't help moaning through the night. Vivid dreams. 


Thankfully the fever subsided, now I'm just left feeling weak and pained through my body. Especially from the waist down.

Wednesday, March 23, 2022

Berani Berpuasa di Bulan Ramadhan

 Bulan Ramadhan sudah dekat! Biar semangat jauh-jauh hari sudah ku-hype ke anak-anakku, A dan S, "Wah, senangnya! Sebentar lagi Ramadhan! Kita puasa, sahur bareng-bareng, buka puasa yang enak-enak! Lalu Lebaran, hore!". 


Tak lupa sebelumnya sudah kubaca-baca tips dan trik membujuk anak ikut berpuasa. Anakku A sekarang sudah berumur 6 tahun. Dan, Alhamdulillah, tahun ini bulan Ramadhan sudah semakin bergeser ke musim semi. Durasi puasa insya Allah akan sekitar 15-17 jam. Lumayan banget dibandingkan sebelumnya yang biasanya 18 jam. Jadi rasanya A sudah kuat, insya Allah, untuk mencoba berpuasa setengah hari. 


Di luar dugaan, tanpa sempat mempraktekkan jurus-jurus membujuk anak berpuasa, ternyata A sendiri yang langsung mengajukan rencana puasanya! "Aku mau puasa, ya, Bu! Jadi nanti aku tiap hari ga bawa tas ke sekolah. Dan aku mau sahur pakai mi goreng!".

Subhanallah, aih, terharu dan terkagum-kagum aku dengan semangatnya. Bersemangat, yakin, dan berani sekali anakku! Walau permintaan menunya membuatku curiga jangan-jangan dia ingin makan Indomie saja, hihihi. Memang kujanjikan dia boleh minta makan sahur dan buka apa saja kalau berpuasa. 


Tapi ternyata justru aku yang jadi khawatir. Maka kubujuk, "Tetap bawa bekal aja, ya, nak, siapa tahu nanti lapar". Yang dijawabnya dengan pendek dan yakin, "Nggak". Diskusi kami tidak berlanjut lagi karena aku lalu terdiam, sibuk dengan kekhawatiran-kekhawatiranku. 


Sekolah A sampai jam 3 sore. Apa iya, dia sudah kuat berpuasa paling tidak sampai jam 3? Nanti bagaimana, ya, menerangkannya pada ibu gurunya? Sekolah A bukan sekolah muslim. Murid muslimnya Alhamdulillah banyak, tapi bukan mayoritas. Akan dipikir membahayakan anak kah kalau kubilang A mau berpuasa dan tidak akan membawa bekal selama Ramadhan? Apa iya A kuat berpuasa pertama kali dan langsung 15 jam?


Lalu aku jadi sadar sendiri, apa iya aku kuat berpuasa 15 jam? 5 tahun terakhir aku tak berpuasa karena hamil dan menyusui A dan S. Apalagi sekarang aku belum mulai bekerja lagi. Dulu rasanya meski puasanya panjaaang sekali asal kuhabiskan bekerja di kampus yang nyaman ber-AC maka tak terasa akan sudah waktunya berbuka. Bagaimana sekarang yang harus di rumah, memasak dan tetap memberi makan S (dan A)?


Ih, tapi begitu ingat betapa mantapnya A tadi berniat puasa, aku jadi malu sendiri. Masa aku yang sudah berpengalaman bertahun-tahun sebelumnya puasa kalah berani sama yang belum pernah sama sekali berpuasa? Apalagi sekarang cadangan lemakku sudah banyak #eh. Diingatkan juga oleh A yang selalu mengulang kembali kata-kataku, "Perkataan itu doa, Ibu". Kalau takut ngga kuat, takut ngga bisa, nanti jadi beneran, deh.

Maka, bismillah, insya Allah A dan saya akan berpuasa penuh Ramadhan ini. Semoga Allah memudahkan Ramadhan kali ini untuk A belajar berpuasa dan saya memulai puasa lagi, amiin. 

Wednesday, March 09, 2022

Menulis itu Mudah: Ode untuk Hilman Hariwijaya

Buat anak kampung yang tinggal di pulau nun jauh dari Jawa seperti Lite, sosok Olga yang jago sepatu roda, jago ngocol, dan punya penghasilan sendiri sebagai penyiar radio itu keren bangetttt! Kosakata seperti doski, gebetan, dan slang khas jakarta lainnya, lengkap dengan produk komersial Toblerone yang bendanya bahkan tak sampai di Ujung Pandang, jadi serasa dekat dengan realitas Lite. 

Nggak mau kalah, dong, Lite kecil dulu lalu belajar sepatu roda. Weekend pergi ke ring sepatu roda dengan sohibnya tersayang, Ratna. Olga punya Wina, Lite punya Ratna. Sempat juga Lite bela-belain cari anting bulat besar merah biar kayak Olga. Tak lupa cari radio untuk melamar kerja sebagai penyiar. Sayang, karena alergi dan masih SD, dua-duanya tak kesampaian, hehehe.

Meski nggak kesampaian jadi Olga, tapi pesona Olga, - yang lalu berlanjut ke Lupus, Lulu, dan Vanya setelah membaca semua novelnya lengkap - , tetap lekat di hati Lite. Cerita yang ringan, gaya bahasa yang santai, kosakata tidak baku yang beda banget dengan novel-novel Balai Pustaka koleksi Ibu Lite, membuat novel-novel itu berkesan sekali. Kayaknya mudah, ya, menulis. Sosok penulisnya, Hilman Hariwijaya, jadi idola Lite. Salah satu cita-cita Lite:  mengirimkan naskah untuk dimuat di majalah Hai. Apa boleh dikata, dulu belum kesampaian karena Lite cuma baca Bobo, Ananda, dan Donal Bebek aja. Sekarang, masih ada, nggak, ya, majalah Hai?


Tentu saja, ternyata tidak semudah itu menulis untuk menghasilkan karya seperti Olga dan Lupus. Walau tokohnya nyeleneh, banyak kosakata slang, ceritanya penuh lelucon dan tebak-tebakan ajaib, tapi selalu saja ada hal yang menyentuh yang jadi pesan moralnya. Berbekas di ingatan cerita tentang Olga dan Wina mengepit biji-biji scrabble di ketiak, tapi juga cerita Olga merelakan gajinya untuk rekan kerja beda agamanya yang kesusahan supaya ia bisa merayakan Natal. Lupus dan Lulu yang selalu dikejar maminya biar nggak ngilangin sendok, tapi juga mereka yang bahu-membahu membantu temannya melawan penggusuran. Ada kepekaan sosial di cerita-ceritanya yang rasanya jauh dari berita-berita tentang "sultan" dan jor-joran pamer harta yang beredar sekarang.


Hari ini, tiba-tiba ada kabar duka cita berpulangnya Hilman Hariwijaya. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Ah, langsung terkenang semua tentang Olga, Lupus, dan tokoh-tokoh lainnya. Sedih sekali. Rasanya ikut hilang separuh masa kecil Lite. Dimana, ya, semua novel-novel itu? Anak-anak Lite nanti akan bisa menikmati gokilnya Lupus dan Olga ga ya? Radio aja sekarang mereka sudah ga kenal, terganti oleh Youtube. 


Mudah-mudahan nanti ketika mereka remaja mereka juga bisa menikmati membaca Olga, Lupus, Vanya, dan juga literatur-literatur yang seperti itu. Yang seru, bikin cekikikan sendiri, tapi juga mengajarkan mereka percaya diri, mandiri, peduli dengan teman, dan juga kenal dengan budaya lokal Indonesia saat itu. 


Selamat jalan Hilman Hariwijaya, terimakasih untuk semua waktu menyenangkan yang  dihabiskan membaca novel-novelmu, semoga tulisan-tulisanmu jadi amal jariyah yang menerangi tempat kembalimu, amiin amiin.


Thursday, September 23, 2021

Bahasa : to be local or to be you

 Tulisan kali ini dipersembahkan untuk komunitas Mamah Gajah Ngeblog dalam rangka ‘Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog di bulan September 2021 mengenai pengalaman berbahasa. Tadinya 'jiper' mau menulis, sepertinya point yang saya pikirkan sudah agak terwakilkan di tulisan DIP: Bahasa, jurang dan jembatan hubungan kita. Kebetulan ternyata juga sedang sama-sama terdampar di Belanda. Tapi ada point lain yang rasanya meresahkan diri saya dan perlu saya tuliskan untuk setidaknya menenangkan diri saya sendiri.


Bahasa dan identitas


Meski istilah "mencari identitas" rasanya identik dengan permasalahan anak remaja, di umur yang sudah memalukan untuk mengaku remaja ini berkali-kali saya merasa harus mendefinisikan ulang identitas saya. Bukan karena jiwa yang masih labil sehingga pagi nasyidan (tabuh berbunyi, memecah alam sunyi.. ) lalu malam jerit-jerit headbanging ( in the eeeeend..it doesn't even matter!)*, tapi karena situasi dan kondisi memang berubah. Dan bukankah hanya yang mampu beradaptasi akan bisa bertahan? 

* Btw, kalau bisa baca liriknya dengan melodi yang tepat berarti kita zaman labilnya deketan dulu, ya :D


Contoh riilnya sekarang ini, saya sedang harus mendefinisikan ulang identitas saya. Situasinya:  keluarga kecil kami baru saja "bedol desa" dari kota kecil cantik di pegunungan Italia ke kota besar metropolis di daratan bawah permukaan laut di Belanda. Kondisinya: saya yang tadinya bekerja dan menulis dengan bangga di kolom pekerjaan : "Ilmuwan" sudah resign dan belum mulai menerima nasib, baik itu jadi ibu rumah tangga atau jadi pencari lowongan kerja. Mau jadi ibu rumah tangga galau ketika anak dengan mantap bilang, "Ibu, kan, kerjanya masak!". Mau mulai apply-apply kerja galau karena algoritma-algoritma dan dasar pemrograman dulu sudah lupa semua. Duh, maafkan mantan asisten labmu dulu ini Bu Inge >_<

Perpindahan geografis ini selalu juga mendefinisikan identitas yang terkait dengan bahasa. Sejak kecil di Indonesia saya berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain yang berbahasa daerah berbeda. Maka di Makassar saya adalah anak yang berbahasa Indonesia dengan sedikit dialek lokal seperti sisipan "mi", "di", atau "ki" tapi tidak mengubah akhiran kata "n" menjadi "ng". Di Bandung saya adalah anak yang menyelipkan "teh", "mah", dan beberapa kata-kata Sunda walau dengan intonasi Jawa yang dibilang terlalu lembut dan medok. Tapi walau saya dituduh medok di kota lain, di Jogja saya justru tidak berbahasa jawa. Saya justru baru menyadarinya dari komentar sambil lalu seorang sahabat. Di Jogja saya adalah anak yang mengerti bahasa jawa tapi selalu menjawab dengan bahasa Indonesia. 

Ternyata saya adalah anak dari keluarga Jawa yang selalu dianggap Jawa di luar Jawa, tapi justru tidak berbahasa Jawa di Jawa.

Setelah melalui refleksi, alasan utamanya adalah: karena takut salah tingkatan. Bahasa Jawa punya 3 tingkatan kehalusan. Untuk berbahasa dengan baik saya merasa perlu menggunakan tingkatan yg tepat juga. Tapi saya tak punya perbendaharaan kata yang lengkap untuk ketiga tingkatan ini. Maka jadilah saya mencari aman dengan menggunakan bahasa Indonesia.


Sekarang saya sadari mengapa saya nyaman berbahasa Inggris. Bahasa Inggris adalah bahasa yang memerdekakan saya dari ketakutan akan salah kasta tingkatan ini. Penggunaannya yang menyamaratakan seluruh audiencenya dengan "you" membuat hidup saya yang canggung memilih menyebut "kamu", "kau", "dikau", "loe" sungguh  jadi lebih sederhana. Maka sejak di  SMA dimana saya menemukan teman-teman yang berbahasa Inggris juga dan mendirikan klub bahasa Inggris sekolah jadilah saya nyaman berbahasa Inggris di komunitas saya.


Sejak pindah studi dan akhirnya menetap di Eropa, masalah dengan identitas bahasa ini menjadi lebih rumit. Dengan kondisi geografis Eropa, jalan jauh sedikit saja maka kita sudah berganti negara dan berganti bahasa. Dan sayangnya Uni Eropa tidak dipersatukan dengan satu bahasa, pun akar bahasa mereka tidak satu. 

Saya beruntung petualangan saya di negara-negara Eropa yang membutuhkan kemampuan bahasa, dan bukan sekedar sebagai turis, setidaknya semua ada di cabang West Germanic (Inggris, Jerman, Belanda) dan Romance (Italia, Perancis) di gambar pohon keluarga bahasa di bawah (Sumber gambar dan pohon lengkapnya ada disini). 




Dengan bahasa yang serumpun Alhamdulillah kosakata bahasa Perancis, Italia, Spanyol, dan Portugis bisa dipelajari lebih cepat. Banyak kata yang akar bahasa latinnya sama sehingga mirip. Hanya cara pengucapan di bahasa Perancis yang smooth jelas jauh berbeda dengan bahasa Italia yang intonasi dan penekanan huruf-hurufnya jelas. Di bahasa Jerman dan Belanda hal yang sama terjadi. Bahkan flatmate Jerman saya dulu mengatakan bahasa Belanda itu seperti bahasa Jerman tapi dengan pronounciation oleh anak-anak kecil.

Aturannya juga secara garis besar sama. Ada gender (M/F/Neutral), ada penyesuaian kata kerja sesuai dengan subject, ada perubahan kata sesuai dengan tenses. Pertama kali mempelajari bahasa Jerman di SMA, lalu bahasa Perancis di CCF Bandung dulu tentu saja terasa banyak sekali aturan grammar yang begitu rumitnya. Bagaikan langit dan bumi dengan bahasa Indonesia yang sederhana sekali grammarnya. Bahasa Inggris juga jadi terasa simpel kalau dibandingkan dengan banyaknya aturan bahasa Jerman. Tetapi setelah initial shock belajar satu bahasa Eropa lewat, maka jadi mudah ternyata mempelajari bahasa yang serumpun. Umumya kita tinggal menganalogikan aturan-aturannya untuk mempelajari bahasa lainnya.





 identitasmuadalah lokal kalau kamu bisa berbahasa daerah setempat












Friday, August 13, 2021

First time Efteling with toddler

 Yesterday we went for a whole day trip to Efteling! It's a Dutch theme park that has been a summer staple for generations. It is our first time going there, and it turned out to be a blast for both A (5 years old now) and S (2 years old)! 


Our experience going to theme park with kids is limited to going to Singapore Universal Studio when A was 2 years old. I remember there wasn't much attractions that we could go to with his age limit, so we don't have much expectations that A and S would enjoy Efteling now.


But we happily stand corrected! We spent the whole day, literally, from 9.30 AM to 9.30 PM at the park and at no point that we ran out of new things which both kids could have fun with! We're actually still missing a few things on our list that we'd love to try! So a trip next year is already planned!


A actually thinks that EVERYTHING he did that day was great. So here I'd just share the highlight of our trips that I think A and S exceptionally enjoyed:

1. Oude tufferbahn

A and S both sat behind the steering wheels on an antique car with us, parents, riding in the back. It seems super simple but A and S were having the time of their life turning the steering wheels left and right and honking at about everything!

2. Gondoletta

The queue time was quick, -maybe because a boat fits a family-, and the payoff is great! The amount of time spent leisurely floating around was actually a lot! We even spot some girls started their ride by unpacking breads and a tupperware of their lunch! I think that's a great idea that we'd steal next time! The lake was full of swimming ducks, the greeneries are nice and the ride was just super relaxing that even S decided to get comfy and lay down to sleep on the boat!

3. Fabula

I remember A had a hard time wearing his 3D glasses at Universal Studio Singapore to watch Shrek adventure. But the 3D glasses actually fits all of us including A and S snuggily. The story was fun, A actually requested to watch it again! And the fun continues as they had playing grounds with slides, climbing tree houses and short movies right after we exit the movie. A climbed soooo high on the tree house that I and S couldn't even follow! The climbing part is geared for older kids, but S could have fun in the tunnel part of the savanna.


4. Maze

A had fun choosing the way and S was always happy catching up to him! It's small and has single entry + exit, but you actually can easily get lost there!


5. Throwing garbage in the animated trash bin

The trash bin has the face and body of a hippo taking a bath, and person, and they all keep on talking about how yummy the trashes are and thanking you for giving them food! A actually asked for more trashes just zo he can throw them away!


A quick run down of the attractions that we went

 to:

1. Fairytale forest

We did not spend much time here but A loved the dragon. A and S could try stealing the crown from his treasure box and the dragon would huffed and puffed and roar at them! 

We caught the jet and jokie show too. A actually enjoyed and participated in it despite it is in Dutch! Good job A!

2. Droomvlucht

S mostly looked in awe to all the new things while A said it is a bit scary. I have to say I did find some of it a bit... unsettling. Some are beautiful and magical as intended though! We'd be completely in the dark and suddenly scenes of fairies singing and playing around, floating castles, planets with castles and stars. 


However the depiction of dwarfs (?) and trolls playing around is a bit unusual for me. The beauty is in the eye of the beholder I guess. But anyway, they seem to enjoy the ride!


3. Stoomtrein

It was great that A and S could see the machinist shoveling the coals, tending the fire and of course turning the steam machine with a loud choo choo and even splashes of steam our way! Too bad we can not stop midway, but it was fun seeing around the area.

4. Pagoda

It's nice to see an aerial view of the complex. But we think it's just ok.

5. Monsieur cannibal

It's a spinning cup ride. I actually avoided it. I think what parent in the right mind would choose to introduce a concept of cannibalism to kids? But A saw people spinning there and he wanted to play so we did. And they had fun! Thanks God the details of the fire under the pot which is the spinning cup were lost on them.

6. Monorail

We especially love this ride since we can queue virtually! But of course A keep on asking is it our turn yet? So in the end we linger around the entry point anyway ad soon as it said we have 5 minutes more before our turn. We thought it will be a ride around the park but instead it is just a ride around the top of the laaf people village.


7. Nest

Nice playground with some unusual playing structure! A and S had fun jumping around in their water bed / trampoline! 


8. Kleuterhof

Is your standard playground park in the city except for the piano A and S happily stepped on to play and the hippo trash can that A love to feed!

9. Anton Pieck square

A "pasar malam" / fair ground style playground. A and S rode the carrousel and the swinging chair which I think look much safer than the usual rickety looking swinging chair in the fair.



Lowest point of the ride:

Carnaval festival

We entered in when the line was super long. We braced it anyway because this ride has been highly recommended for children.

But the most jawdropping thing is how racist,  politically incorrect, regionally inaccurate and not child friendly this ride is.

It's supposed to be a ride around the world in an air balloon with the park mascot Jokie and Jet. Instead of celebrating and introducing the kids to the wonder of different countries this ride make fun of the stereotypes for each country.

Why would you have an animatronic prostitute representing France? Or drunken people partying with beers representing Germany? 

I could go on and on about all the wrong things but, bottom point, Carnaval Festival is NOT a child friendly ride and I will not recommend it to any family with kids visiting Efteling.


Tips for next time:

1. Do the thrill rides first thing in the morning.

2. Get the ravelijn ticket as soon as you're in the area because the boarding passes are immediately sold out in few hours



Friday, July 30, 2021

Bhinneka Tunggal Ika

Jargon ini dulu pada pelajaran PMP, -yang lalu dinamakan PPkN-, jadi seperti sesuatu yang biasa saja. Taken for granted. Sebagaimana cantiknya gunung-gunung di Indonesia dan Italia baru terasa cantik sekali setelah tinggal di Belanda yang, blong, datar dari ujung ke ujung. Baru setelah tinggal di negara lain, bertemu teman-teman dari berbagai negara, saya memahami Indonesia sungguh sangat spesial dengan keragamannya.


Keragaman Bahasa

Iya, bahasa daerah di Indonesia buanyaaak sekali! Saya "korban"-nya. Karena tinggal berpindah-pindah, setiap kali pindah, pasti nilai bahasa daerah saya jadi merah! Lima, atau kadang-kadang enam kalau gurunya kasihan sama saya. Indah sekali dipampang dengan semua nilai matematika, IPA, dan lain-lain yang 8, 9 semua, biar saya ga sombong :D

Tentu saja, dari Jakarta, ke Makassar yang harus belajar aksara lontara, ke Bandung, lalu ke Jogja belajar honocoroko. Saya kecil terpontang-panting berusaha mengerti bahasa-bahasa yang beragam ini.

Saya lupa mensyukuri bahasa Indonesia. Meski logat saya selalu ditertawai karena berbeda dengan logat setempat, toh, semua mengerti bahasa Indonesia.


Saya terheran-heran melihat kawan-kawan saya dari India yang berbicara bahasa Inggris di antara mereka sendiri. Kawan kami yang dari utara India berbahasa Urdu, yang dari selatan India berbahasa Tamil, dan mereka saling tidak mengerti satu sama lain. Sehingga akhirnya mereka berbahasa Inggris di antara mereka, yang notabene bahasa penjajah mereka. Ternyata kata wiki memang mereka tidak memiliki bahasa nasional. Ah, keren sekali bahasa Indonesia yang mempersatukan seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke! Hih, bayangkan kalau kita malah jadi berbahasa Belanda. Ga sudi! (Kata saya yang sekarang malah terdampar di Belanda).


Keragaman agama


Waktu itu Lebaran, yang saya lewati bukan dengan makan ketupat tapi dengan mengikuti kelas summer school di pegunungan Perancis. Tentu saja tidak libur. Sambil lalu saya katakan pada kawan saya dari Denmark ketika kami break makan siang, betapa enaknya di Indonesia yang sedang libur sekarang. "Oh iya ya kalian negara muslim", katanya. Saya bilang dengan santai, "Kita bukan negara muslim, kita libur juga di hari besar agama lain, kok."


Di luar dugaan, dia kaget sekali! "Apa? Semua hari raya agama? 6 agama???", katanya dengan lebih terkaget-kaget lagi ketika saya bilang jumlah agama yang diakui di Indonesia. Dia yang besar di Denmark cuma libur ketika hari raya Kristen. Itupun dia bilang sudah jarang orang yang mengamalkan agamanya. Cuma orang tua yang ke gereja, katanya. 


Maka kembali saya jatuh cinta pada Indonesia, yang mendukung semua agama berkembang dengan baik, menghargai semua agama sampai mengatur dengan undang-undang. Sering kita dengar betapa rebet-nya Indonesia yang menaruh agama di KTP. Hey, memangnya kamu lebih suka negaramu tutup mata dengan agama tapi menyamaratakan saja semua beragama Katolik sehingga cuma merayakan libur Katolik, misalnya seperti di Italia?



Keragaman Ras 


Ketika berbicara dengan kawan dari Malaysia, saya lupa apa topiknya, tak sengaja saya bilang, "You're Malaysian, right?". Ia lalu mengoreksi saya, "I'm Chinese". Saya bingung. Rupanya di Malaysia, yang ada ras Melayu, Cina dan Bengal itu, tidak politically correct kalau bilang dia orang Malaysia. Chinese-Malaysian lebih tepat untuk dia untuk membedakannya dengan orang melayu Malaysia. Rupanya ada kesenjangan antara kebijakan pemerintah untuk orang Melayu dengan yang lainnya, sehingga identitas dari ras mana itu penting! Eh, jadi meng-ghibah tetangga, deh. 


Bayangkan, kalau tiba-tiba saya bilang, "Saya, ni, Jawa-Indonesia, loh!". Yang ada semua cuma mengerutkan kening, "Ya, terus kenapa?"


Alhamdulillah, Indonesia, -yang jenis ras dan suku-nya tak terhitung ini-, semua dengan tenang bisa disebut sebagai orang Indonesia. Paling-paling ketahuan suku-nya kalau mulai bicara keluar medok-nya, atau diakhiri dengan "ki", "mi" atau diakhiri dengan kata hewan, hahaha.



Sungguh, Indonesia, yang bhinneka tunggal ika, adalah negaraku tercinta. Walau nilai bahasa Indonesiaku seringnya mentok di angka 7 tapi Indonesia kusayang dan kubanggakan sampai ujung dunia!!


Monday, July 26, 2021

Bahasa dan pertemanan anak

 Anakku A lahir di Italia. Dengan bahasa ibu di rumah bahasa Indonesia dan lingkungan pergaulan kami yang mayoritas berbahasa Inggris. Kekhawatiran pertama saya ketika ia mulai bersekolah bukanlah apa ia akan mendapatkan teman, tetapi lebih mendasar: apakah ia akan bisa survive dengan lingkungan semua berbahasa Italia?


Saya membacakannya buku-buku berbahasa Italia di rumah. Kami mengikuti kegiatan ibu dan anak berbahasa Italia. Kami juga memiliki seorang nonna italiana yang merajutkan selimut hangat buat A ketika ia lahir. Tapi hanya sampai disitu saja interaksi kami dalam bahasa Italia sehari-harinya.


Alhamdulillah ternyata sesuai saran ahli pedagogis, -yang tidak menyarankan saya berbahasa Italia juga di rumah bila memang bukan bahasa Ibu-, A tumbuh berkembang dengan baik di sekolahnya. Di nido (pra-TK) malah ia menjadi anak pertama di kelasnya yang mulai berbicara bahasa Italia. Dengan menirukan semua ucapan guru-gurunya sehingga ia dijuluki Papagalino: si burung kakaktua.


Sifat sosial A sudah terlihat sejak di nido. A hafal nama teman-temannya dan juga mengenali yang mana orangtua yang selalu mengantar / menjemput mereka. Di rumah ia akan bercerita mengenai mereka dan dimanapun kami bertemu ia akan lantang menyapa mereka. Mayoritas teman-temannya belum lancar berbicara, tapi itu ternyata tidak menghalangi mereka main bersama dengan aktif.


Ketika ia harus mulai sekolah di scuola materna (TK) pada umur 2.5 tahun awalnya saya khawatir. Ia harus beradaptasi dengan sekolah baru, guru baru, dan teman baru yang tidak dikenalnya dari bayi. Ternyata ia bisa mengikuti semua kegiatan dengan baik dan berinteraksi dengan guru dan teman-temannya dengan aktif. memiliki banyak teman-teman, yang selalu menyambut dan memeluknya ketika ia datang. Mereka selalu saling menyapa dengan excited setiap bertemu di jalan, sampai berlarian dari jauh dan memeluk dengan dramatis seperti di film India! lalu dengan semangat main bersama di taman. Ah, alangkah manisnya anak-anak!


Kami lalu pindah ke Belanda. Dengan pengetahuan bahasa Belanda nol besar. Kembali saya khawatir. Sistem pendidikan dan lingkungan yang berbeda, penyesuaian dengan tempat baru, apalagi di masa pandemi dengan kebijakan sekolah yang minim interaksi orangtua karena harus menjaga protokol Covid. Satu-satunya hal yang sedikit menenangkan adalah mayoritas orang berbahasa Inggris disini, juga gurunya. Maka saya pun berpesan banyak-banyak, bila ada yang ia tidak mengerti atau ia butuh bantuan, jangan segan-segan bertanya dengan bahasa Inggris.


Alhamdulillah A ternyata bisa langsung memiliki teman baik. Rupanya salah satu teman di kelasnya berbahasa ibu bahasa Inggris. Lega sekali rasanya A bisa langsung memiliki teman! Akibat buruknya tapi A jadi lebih suka berbahasa Inggris terus dengan anak itu saja. 


Qadarullah lalu terjadi sedikit masalah dengan anak tersebut. Sehingga gurunya menganjurkan untuk A lebih aktif berbahasa Belanda lagi dan bermain dengan yang lain. Alhamdulillah ia lalu menemukan teman lain yang berbahasa Inggris lagi dan selanjutnya seiring dengan perkembangan bahasa Belandanya ia memiliki lebih banyak lagi teman yang berbahasa Belanda. Ternyata bahasa memang membuka lebih banyak ruang pertemanan.


Kini, seperti dulu juga di Italia, ia selalu disambut dengan pelukan oleh teman-temannya ketika datang ke sekolah, juga ketika pulang. Alhamdulillah. Sungguh saya kagum dengan resistensi dan kemampuan adaptasi A. Subhanallah Allah yang menciptakan otak manusia dengan kemampuan adaptasi dan bahasa yang mengagumkan.


Saya percaya lingkungan yang baik, teman-teman yang baik dan amar ma'ruf nahi munkar adalah rezeki. Maka tak henti-hentinya saya selipkan doa untuk A setiap sehabis shalat: Semoga A dikelilingi banyak teman-teman yang baik, menyayanginya dan Allah melindunginya selalu di jalan Allah dunia akhirat, amiiin.

Monday, July 19, 2021

Merancang pendidikan anak

Alhamdulillah, saya sangat bersyukur memiliki Ibu sebagai contoh dalam merencanakan pendidikan anak. Beliau selalu menekankan pendidikan anak adalah nomor satu. Dan beliau menerapkannya dengan rencana yang jelas dan matang.



Membaca sejak dini



Target pertama beliau adalah mengajarkan anak mencintai buku dan membaca sejak dini. Selanjutnya anak dapat membaca buku-buku sendiri untuk belajar dan memperluas wawasan.




Berperan aktif mendorong anak menikmati belajar



Ibu lah yang mengajari saya semua pendidikan dasar sambil bekerja full time setiap harinya. Suatu waktu Ibu sampai datang ke sekolah mengoreksi guru yang mengajarkan cara menghitung volume bangun yang salah pada pelajaran Matematika. Ah, alangkah bangganya saya! 

Ketika kami jauh, beliau tetap menyertai dengan menelepon rutin seminggu sekali. Mengecek keadaan kami, apakah kami bahagia? Mendengarkan keluh kesah kami dan juga memecahkan masalah-masalah kami.



Setiap awal tahun pelajaran, Ibu duduk bersama-sama kami semua menyiapkan buku-buku tulis baru dan semua peralatannya. Semua buku tulis beliau sampul dengan kertas kopi dan plastik, lalu diberi label yang diketik rapi dengan mesin ketik untuk masing-masing pelajaran kami. Pernah kutanya, mengapa repot-repot? Jawab beliau: supaya kami semua semangat belajar dan teringat jerih payah Ibu setiap belajar dengan buku dan alat-alat tulis tersebut.



Ibu memang menekankan tugas utama kami adalah belajar. Saya bahkan tidak diperbolehkan membantu beliau ketika beliau sedang menyapu rumah, misalnya. 'Tugas kalian adalah belajar. Kalian sudah sangat membantu Ibu kalau kalian belajar dengan rajin dan tekun", kata Ibu.




Alhamdulillah itu tidak lantas membuat belajar menjadi beban bagi kami.

Menurut Ibu kuncinya adalah buat anak menikmati proses belajarnya. Bahwa belajar adalah hal yang menyenangkan! Karena pencapaian anak ketika berhasil mempelajari sesuatu itu sendiri sudah merangsang hormon endorphin di otak yang membuat belajar menjadi candu!




Pendidikan agama yang kuat sebagai pondasi



Ibu berprinsip dengan pondasi agama yang kuat insya Allah nantinya ke mana pun anak pergi, kondisi apa pun, sudah ada pegangan yang jelas. 



Ibu mencanangkan target untuk anak dari kecil dibiasakan hafalan doa sehari-hari, hafalan surat-surat pendek dan bacaan shalat dengan artinya. Tujuan beliau adalah agar kami punya hafalan yang cukup untuk shalat dan mengerti apa yang kami ucapkan dalam shalat kami.



Ibu menyekolahkan kami di tempat yang homogen, yaitu di sekolah-sekolah Islam atau yang islami sampai SMA. Untuk ini Ibu melepas kami bersekolah jauh di lain kota: di madrasah sampai tingkat SMP dan sekolah islami ketika SMA.


Pendidikan olahraga dan musik


Pendidikan yang lengkap juga mencakup pendidikan motorik halus dan kasar. Ibu membiasakan kami olahraga bersama setiap hari minggu. Ibu juga mendorong kami belajar musik untuk melatih motorik halus,melembutkan rasa, dan untuk relaksasi. 


Apa kabar dengan saya?


Alhamdulillah, sebagaimana pengajaran Ibu kepada saya dulu, putra saya sudah bisa membaca sendiri di umur 5 tahun dan mulai bersekolah SD. 


Jujur saya masih bersusah payah mempraktekkan apa yang diajarkan Ibu: 

  • Jangan sampai memaksa anak belajar. 
  • Berhenti ketika anak sudah tidak enjoy. 
  • Hentikan aktivitas ketika anak mencapai high point sehingga ia memiliki memori indah mengenai sesi belajarnya tadi.


Apalagi ketika anak kedua lahir, ternyata saya hidup dalam survival mode dari hari ke hari. Alhamdulillah, Ibu menenangkan saya, "Yang penting tiap hari ada satu hal baru yang dipelajari. Dalam dunia anak, hampir segala sesuatunya itu baru!"


Dari bayi anak-anak sudah kami biasakan berenang. Lalu untuk musik, kami mengikuti aktivitas music together sejak mereka kecil dan mendampingi mereka belajar musik dengan suzuki method.



Dengan visi pendidikan di lingkungan beragama ketika kecil itu tadinya kami merencanakan akan kembali ke Indonesia ketika anak kami berumur 7 tahun. Akan tetapi entah bagaimana rencana kami sekarang dengan kondisi Indonesia saat ini.


Ah, apapun saya ingat kembali pesan Ibu, serahkan semuanya pada Allah. Sebagaimana Ibu menyertai anak-anaknya dulu ketika bersekolah jauh dari beliau: 'Ibu mendoakan kepada Allah, dan kalian juga berdoa kepada Allah, insya Allah kita membuat segitiga yang semua bermuara kepada Allah sehingga selamat dunia akhirat, amiin". 



Monday, July 12, 2021

Mainan untuk anak

 Sebelum punya anak saya pernah bertekad hanya akan memberi buku saja sebagai hadiah anak. Saya memang pencinta buku. Sejak kecil memori saya yang berkesan adalah dengan buku, bukan dengan mainan. Maka jadilah keponakan dan anak-anak sahabat selalu saya hadiahi buku. 


Ketika putra saya, A, lahir ada berpuluh buku untuknya yang sudah dibacakan sejak ia dalam kandungan dan nol mainan. Mainan pertamanya adalah kerincingan monyet yang dibelikan ibu saya ketika beliau datang menengok kami sebulan setelah A lahir. 


Saya baru menyadari anak memerlukan bermain (selain dibacakan buku, dinyanyikan dan diajak berbicara) ketika kami mulai pergi ke acara ibu dan anak. Disana saya mempelajari tentang Montessori treasure basket untuk merangsang anak mengesplorasi sekitarnya. Konsep Montessori ini menekankan penggunaan benda yang ditemukan sehari-hari. Jadilah anak saya bermain-main dengan sponge mandi, sendok kayu, dan pita. Ibu saya pernah mengomentari (dengan setengah prihatin mungkin), "Wah, A mainannya pita terus".


Alhamdulillah rasa antipati saya terhadap mainan pelan-pelan mencair setelah membaca berbagai sumber bahwa anak-anak belajar melalui bermain. Ternyata bukan cuma dari buku saja

.


Maka saya lalu meriset mainan-mainan edukatif apa yang diperlukan sesuai perkembangan umur anak. Setiap ada sale seperti Amazon prime day dan black Friday, atau ketika suami bertugas ke luar negeri, sibuklah saya berburu mainan-mainan yang direkomendasikan.


Dengan metode belanja aji mumpung itu kami jadi punya stok mainan di rumah. Kami menghadiahkannya pada A ketika Idul Fitri, Idul Adha, ulang tahunnya dan juga sebagai apresiasi prestasinya, ketika ia setuju disapih, atau berhasil menyelesaikan iqro misalnya.


Tanpa terasa tapi sistem hadiah mainan reward kami ini bergeser ke ekstrim lain. Kadang ketika kami membujuk A untuk mau belajar sesuatu A lalu akan bertanya: "Nanti dapat hadiah ngga?"


Maka berkonsultasilah saya pada ahlinya: ibu saya.


Dan berikut point-point yang diajarkan ibu:


  • Hadiah bukan diberikan untuk sesuatu yang rutin. Ibu saya memang dari dulu tidak pernah merayakan ulang tahun, apalagi memberi hadiah ulang tahun.

  • Apabila akan memberikan hadiah untuk mengapresiasi usaha anak melakukan sesuatu maka diberikan langsung saja setelah selesai tanpa memberi tahu dulu nanti akan dapat apa. So, no more bribing!

  • Mainan diberikan sesuai keperluan anak.

  • Lebih baik mengaitkan reward dengan sesuatu yang emosional seperti perasaan self accomplishment.

  • Latih anak bersyukur dan merawat mainan yang ada. Kami terbiasa memperbaiki mainan yang rusak dengan Scotch-tape / selotip, sampai anak kedua saya mengira semua bisa diperbaiki dengan "scotch".

  • Apabila anak meminta suatu mainan tertentu ajarkan bedanya kebutuhan dan keinginan. Lalu ajak ia untuk menabung untuk keinginannya. Biarkan ia menabung sebisanya. Nanti tentukan kapan tabungannya akan dibuka dan kita bisa menambahi kekurangannya.

  • Asosiasikan kebahagiaan dgn hal yang immaterial seperti kebersamaan, pelukan, dan pujian.

  • Tekankan pada kualitas bukan kuantitas. Studi juga menemukan anak kurang bisa berkonsentrasi lama bila ada terlalu banyak mainan. Maka isi lemari mainan anak secukupnya saja, lalu secara berkala dirotasi. Pemilihan mainan diutamakan mainan yang open ended play.

  • Dampingi anak bermain. Anak lebih menyukai menghabiskan waktu dengan orangtua bersama mainannya, bukan mainannya itu sendiri                                                                                                                                                                      


Monday, July 05, 2021

Kelahiran anak: kelahiran kembali diriku

Memiliki anak telah kami rencanakan sebaik-baiknya ketika kami "siap". Telah kami selesaikan urusan studi kami dan kewajiban agama kami. Kami telah siap dengan pekerjaan tetap, asuransi, berbagai cek darah dan konsultasi dokter sebelum program kehamilan. Lima buku tebal mengenai kehamilan dan berbagai buku-buku anak sudah siap. Dari Indonesia 2 koper perlengkapan bayi sudah dibawakan. Berpuluh lirik lagu anak-anak juga telah dituliskan ibuku untuk ku senandungkan. 


Tapi realitas menghantamku: tangisan anakku membuatku stress, panik dan ikut menangis. Sesuatu yang membuatku ditahan pulang dari rumah sakit. Tapi aku berkeras pulang. Aku tak bisa tidur di rumah sakit karena aku selalu khawatir terjadi sesuatu pada bayiku di sebelah ranjangku ketika aku tertidur. Tapi ibu macan apa aku kalau menitipkan anakku di ruang suster? 

Akhirnya aku tertidur panjang begitu sampai rumah. Aku tahu ada J untuk bayiku ketika aku tertidur. Tapi kecemasanku berlanjut. Bayi kecil ini hidupnya seluruhnya tergantung padaku. Sementara ia hanya bisa menangis. Aku tak mengerti apa yang ia mau dan aku tak tahu sama sekali apa yang harus kulakukan. Aku cemas setiap saat akan bayiku. 


Aku mengadukan kecemasanku pada ibuku, panutanku. Ibuku menjawab tenang: "Nanti akan lewat'. "Ibu akan belajar bersama anaknya". "Semua trial dan error".  "Nanti secara alami akan bisa".

Tapi aku tak bisa. 

Aku terbiasa berpacu menjadi yang terbaik dalam belajar. Berikan semua dasar teorinya padaku, akan kupelajari semua dan akan kupecahkan semua masalah sesuai dasar teori tersebut. 

Menghadapi bayiku, tanpa dasar teori, rasanya semua titik acuan ku hilang. Aku merasa tidak punya kontrol atas apa yang terjadi. Aku selalu dihantui ketakutan dan berfikir anakku pasti akan lebih baik bila bersama ibu yang lain. Yang sudah siap menjadi Ibu terbaik. 

Bagaimana menjadi ibu yang terbaik?

Kelak aku mendapat jawabannya: yang penting adalah bagaimana menjadi ibu yang cukup baik untukku dan anakku. 

Mengingat masa-masa itu, lalu melihat diriku sekarang setelah anak kedua lahir, dimana aku bisa menghadapi dua anak yang menangis histeris dengan tenang. Dimana aku bisa menarik kesimpulan bahwa dulu aku mengalami postpartum depression. Yang dijawab santai J: "Iya, aku tahu, 'kan aku diceramahi oleh dokter dulu sebelum kamu akhirnya dibolehkan pulang". Aku jadi bisa menghargai betapa jauh perjalanan diriku untuk sampai di saat ini. Bersama dengan tumbuhnya anak-anakku. Lahir kembali bersama mereka. 

Berserah

Ternyata aku jadi mempelajari ulang agamaku: berserah, sesuai akar kata Islam. Sesungguhnya anakku adalah titipan Allah. Tidak ada yang bisa kulakukan tanpa seizin Allah. Maka yang berada dalam ruang kontrolku adalah dengan berusaha semaksimal mungkin dan kemudian menyerahkan semua pada Allah. Menitipkan anak-anakku pada sebaik-baiknya penjaga titipan.


Menurunkan standard dan menata ulang prioritasku

Sejak awal kehamilanku ibuku telah menasihatiku untuk menurunkan standard. Dan tentu saja setelah jatuh bangun stress dan kecapaian, aku baru melaksanakannya: melakukan semampunya semua hal berdasarkan skala prioritas.

Maka semuanya kulakukan dengan survival-mode. Rumah berantakan, cucian menumpuk, it's okay. Yang penting semua sehat, well-fed, bahagia dan berpakaian bersih.

Aku juga jadi belajar mengatur waktu sebaik-baiknya. Agar 5 menit yang tersisa bisa kupakai untuk sekedar menaruh mainan pada tempatnya untuk menjaga kewarasanku.


Belajar kembali menjadi manusia

Membersamai manusia-manusia kecilku tumbuh besar, ternyata aku ikut belajar kembali menjadi manusia seutuhnya. Kami belajar mengontrol emosi ketika marah dengan menarik nafas dalam dan menghitung sampai 4 bersama Daniel Tiger. Ketika aku memvalidasi perasaan kesal mereka ketika tantrum dan membantu mereka kembali tenang, aku belajar memvalidasi juga perasaanku untuk hal yang sepele bagi orang lain tapi penting sekali bagiku. 

Sering aku justru belajar dari mereka. Pernah aku tak sengaja memecahkan celengan anakku. Kami sedih sekali. Sambil mengelem kembali pecahannya dan memohon maaf kepada anakku, dalam hati aku sibuk memarahi diriku sendiri. Tapi anakku justru berkata menenangkanku, "I'm not mad, Mom". Ah, betapa kita memang harus memuliakan anak. Aku jadi belajar menyayangi diriku sendiri dan memaafkan diriku. 

Aku belajar menghargai keinginan mereka. Sehingga ketika anakku memilih berhenti melihat awan yang bentuknya aneh daripada main di taman yang kukira lebih menyenangkan, itulah yang kami lakukan.


Sungguh banyak yang kupelajari dengan kehadiran mereka. Dan masih banyak lagi yang akan aku pelajari. Tapi aku tahu aku siap: siap tumbuh dan belajar bersama mereka.



Friday, June 18, 2021

Air minum untuk semua

Setiap pulang ke Indonesia kelatahan J yang paling sering dilakukan adalah: meminum air langsung dari keran. Padahal kami sudah selalu mempersiapkan mental untuk berganti konteks budaya tiap pulang. Menahan diri untuk tidak asal mengomentari orang lain dalam bahasa Indonesia misalnya. Tapi setiap kali pulang, boleh taruhan, minimal 3 kali akan ada insiden meminum air keran. 



Mungkin karena aksi minum langsung dari keran ini sudah terlanjur mendarah daging di rantau. Tanpa terasa kami take it for granted keberadaan air yang langsung bisa diminum dari keran di sekitar kami. Sehingga gegap budaya itu cuma terjadi ketika kami pulang ke Indonesia. Atau ketika di video call Ibu saya memperingatkan dengan khawatir, "Awas! Itu airnya diminum!", waktu melihat anak saya yang sedang main sensory play dengan wahana sebaskom air mengambil kesempatan meminum sebagian airnya. Sementara saya bahkan tidak menghitung itu sebagai resiko. Karena airnya memang bisa diminum. Sama sekali tidak ada kekhawatiran nanti anak saya akan sakit perut karena meminum air tersebut. 



Lalu barulah saya tersadar, Alhamdulillah, alangkah beruntungnya saya. Tanpa saya sadari saya telah terbebas dari kekhawatiran anak tidak mendapatkan air bersih dan bisa diminum. 




Saya jadi berdiskusi dengan Ibu saya mengenai ketersediaan air minum untuk semua di Indonesia. Mungkin bisa diusahakan sarana untuk purifikasi air sehingga bisa diminum. Tapi lalu bagaimana memastikan distribusi air tersebut sampai ke rumah-rumah dengan selamat? Masalah seperti pipa-pipa rumah lama yang karatan dan kerapnya terjadi kebocoran pipa-pipa, siapa yang akan menangani semua itu?




Saya jadi tersadar. Kadang-kadang saya mempertanyakan definisi surga di Al-Qur'an yang biasanya memuat konsep "mata air yang mengalir". Di surat Ar-Rahman misalnya. Saya pikir ini tentu konteksnya sesuai pada zaman Nabi Muhammad SAW dimana ayat tersebut diturunkan. Untuk kaum di padang pasir yang panas tentunya konsep surga adalah seperti itu. Tapi di sekitar saya air mengalir dimana-mana, bersih dan segar. Di berbagai sudut kota ada kran atau pancuran air yang selalu mengalir untuk diminum siapa saja. Airnya sejuk dari pegunungan dan hanya mati ketika musim dingin supaya pipanya tidak rusak.




Subhanallah, sungguh saya dirahmati dengan surga dunia sampai lupa bersyukur. Sampai tak sadar di tanah air sendiri air bersih yang mengalir bisa diminum ini bukan hal biasa. 






Saya terkaget-kaget ketika mertua bercerita ada kalanya air mati di rumah beliau di Bandung. Lalu barulah saya prihatin, mengapa bisa begini? Keadaan alam Indonesia tidaklah kering penuh padang pasir seperti mayoritas di Afrika. Mengapa kita tidak punya air bersih yang bisa diminum langsung terkoneksi ke rumah-rumah di Indonesia? 


Alhamdulillah Indonesia sudah memiliki target "Akses Air Minum Aman yang Universal dan Merata" dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024 dan dalam Sustainable Development Goals 2030. Telah disusun rencana untuk mencapainya. Telah dilakukan juga Studi Kualitas Air Minum Rumah Tangga tahun 2020 yang menjadi studi terbesar di dunia sebagai baseline perkembangannya. Walaupun ada juga keprihatinan atas privatisasi air yang menyulitkan akses masyarakat ke sumber air. 


Tentunya permasalahan di Indonesia jauh berbeda dengan disini dimana pengelolaan air disentralisasi oleh pemerintah dan dialirkan langsung ke rumah-rumah. Disini saya hanya perlu memikirkan mengenai pembayaran biaya air tiap bulannya serta biaya purifikasi air buangan. Asal berhati-hati tidak membuang minyak ke saluran air maka nominalnya tidak akan besar. 


Sementara di Indonesia ada rumah yang memiliki sumurnya sendiri, ada yang mengandalkan air PAM, dan ada yang mengkonsumsi air isi ulang dengan berbagai merk. Saya pribadi tak bisa membayangkan rumitnya perencanaan dan pengawasan untuk semuanya.


Saya iringi tulisan ini dengan doa untuk tercapainya mimpi agar seluruh warga Indonesia nantinya bisa menikmati air minum yang bersih langsung dari keran rumah masing-masing. Alangkah indahnya Indonesia bagi anak cucu kita bila dilengkapi dengan air mengalir dan bisa diminum seperti gambaran Allah SWT mengenai surga, insya Allah.