Monday, March 04, 2024

Brownies

Perkenalan pertamaku dengan brownies adalah di Bandung, sewaktu kuliah di ITB. Bukan brownies Amanda, yang baru muncul dan mulai terkenal saat itu, tapi justru brownies buatan salah satu teman kos-ku di Cisitu. Sahabat kesayanganku ini, N, sudah berjiwa entrepreneur sejak dulu. Di saat aku cuma sibuk berkutat dengan tugas-tugas besar dan tenggelam di buku-buku tebal bajakan dari fotokopian Dunia Baru, ia sudah membangun usaha sampingannya sambil kuliah. N berkongsi dengan salah satu teman kos yang lain untuk bekerjasama membuat puding cup dan brownies yang lalu dititipkan di toko kelontong dekat kos-kosan kami. 

Untukku dulu memasak, apalagi membuat brownies seperti yang N lakukan, adalah hal yang ajaib. Ke dapur saja hampir aku tak pernah. Sejak kos semasa SMA aku bergantung pada makanan jadi dari ibu kos atau warung. Dengan keterbatasan uang bulanan, makanan enak seperti kue-kue dan brownies itu adalah makanan mewah yang cuma bisa dimakan kalau waktu liburan pulang ke rumah: program perbaikan gizi dari Ibuku. Jadi bahwa makanan seenak brownies bisa dibuat sendiri di dapur kos-kosan kami yang seadanya itu benar-benar amazing buatku!


Tentu saja buat N itu tidak semudah mengayunkan tongkat ajaib. N belajar memasak dari ibunya yang biasa menerima pesanan kue-kue untuk acara-acara. Untuk memulai usahanya, N membeli oven tangkring untuk dipakai di atas kompor dapur kos-kosan kami dan membawa mixer serta peralatan masaknya dari Jakarta. Ia berbelanja bahan kuenya di toko bahan kue di Simpang dan dengan detil menghitung pengeluaran termasuk penggunaan gas kompor milik bersama untuk menetapkan harga jualnya. Ia juga membuat kotak kue cantik yang dihiasnya dengan kertas kado untuk menaruh kue yang dijualnya di toko. Malam ia akan membuat adonan dan memanggang browniesnya. Paginya browniesnya dipotong-potong dan dikemas untuk dijual per potong. Telaten dan keren banget, deh, pokoknya N dalam berbisnis! Kata N konon ini karena keturunan Arab-nya, jadi jiwa bisnis sudah kental di keluarganya. 


Sebagai fans berat brownies N awalnya aku membeli browniesnya sebelum dibawa ke toko. Namun kemudian sempat N protes, karena terlalu banyak dibeli duluan di kos jadi sedikit yang bisa dibawa ke toko. Akhirnya beberapa kali kubela-belain, deh, beli ke toko dekat kos. Sisa yang tak habis terjual di toko juga kadang jadi rezeki bisa kubeli. Duh, nikmat sekali dulu rasanya bisa makan brownies yang enak di kos-kosan hampir tiap hari!


Ketika waktu libur tiba, terinspirasi dari N aku jadi ingin membawakan brownies untuk orangtuaku. Namun, sebagai orang terlalu PD, aku ingin membuatnya sendiri: penuh cinta untuk Bapak Ibuku! Maka aku pun ikut N berbelanja bahan dan membeli sendiri bahan untuk 1 loyang. Dengan meminjam semua peralatan N dan dengan semangat '45 aku membuat brownies mengikuti resep N. Tentu saja sambil terus menerus bertanya dengan rewel ini itu detail cara pembuatannya. Pakai protes segala: "Masa, sih, minyak goreng dipakai untuk buat cake?".  Sekarang setelah kupikir-pikir, kebangetan juga aku ini ngerepotin N. Masya Allah, sabar sekali N padaku! 

Dan hasilnya... gagal! Hahaha.

Entah mengapa brownies yang kupanggang lengket di loyang. Warnanya, sih, sudah betul coklat kehitaman. Akan tetapi teksturnya berbulir-bulir lengket, jauh beda dari brownies yang lembut, dan bentuknya juga tidak jelas. Apa boleh buat, sudah waktunya liburan, kubawa lah brownies gagal itu mudik.


Sampai rumah, sambil lalu kutaruh brownies itu di meja makan. "Ini aku bikin brownies, Bu, Bapak, tapi gagal, hehehe," lalu kutinggal lah brownies itu sementara aku sibuk dengan hal lain. Mungkin bongkar-bongkar baju kotor bawaan, hihi.

Tak disangka ketika kemudian aku kembali ke meja makan, Bapakku sedang dengan nikmat memakan brownies gagalku. Aku langsung dengan panik berusaha menghentikan beliau. "Jangan dimakan, Bapak. Itu gagal browniesnya, nggak enak!".

Namun Bapakku dengan santai tetap menyendok langsung dari loyang brownies yang sekarang sudah berkurang setengah lebih isinya. "Enak, kok, ini!".

Tidak tega rasanya aku melihat Bapakku memakan brownies gagalku. Akan tetapi  terharu sekali juga rasanya menyadari betapa suportifnya Bapakku kepadaku. Bapakku menghargai sekali usahaku membuat brownies itu walau hasilnya gagal. Allahuma barik, semoga Allah SWT membalas menyayangi Bapak Ibuku sebaik-baiknya, lebih dari Bapak Ibuku menyayangiku selalu.

Alhamdulillah sekarang, setelah melanglang buana dan terpaksa masak kalau mau makan, skill masak memasakku sudah lebih baik. Tak hanya brownies, berbagai macam cake lain sampai yang tricky seperti bolu gulung dan dobos torte pun Alhamdulillah kini bisa kubuat. Akan tetapi brownies selalu tetap di hati. Brownies selalu jadi pilihanku saat ingin sesuatu yang menyenangkan hati atau saat harus cepat-cepat membuat sesuatu untuk berbagi di acara dengan teman-teman. Aku selalu memastikan di rumah selalu ada coklat blok, mentega, terigu, gula dan telur sehingga sewaktu-waktu aku dapat membuatnya. Membuatnya mudah dan cepat, dan variasi toppingnya bisa dikreasikan tanpa batas. 

Anak-anakku, Alhamdulillah, juga selalu menikmati brownies buatanku. Putraku suka brownies dengan topping kacang-kacangan yang berlimpah, sementara putriku lebih menyukai brownies tanpa topping. Senang sekali rasanya tiap melihat mereka makan dengan lahap brownies buatanku. Semoga sampai nanti makan brownies akan selalu mengingatkan mereka akan rasa sayangku pada mereka, sebagaimana aku teringat rasa sayang Bapakku padaku, amiin.


No comments: